Wadaiko Bawa Pesan Persahabatan Indonesia-Jepang

    


Penampilan Wadaiko Dream Team yang merupakan kelompok seni genderang asal Jepang di Taman Budaya Denpasar - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sebagai salah satu penggagas Wadaiko Dream Team Jepang, Kobayashi, salah satu pemain Daiko atau genderang khas Jepang, berkeinginan untuk menjalin persahabatan dengan Indonesia.

Kedekatan dengan Indonesia menghasilkan sebuah lagu berjudul ‘Inspirasi de Indonesia’

“Inspirasi de Indonesia adalah sebuah lagu yang diciptakan guru saya yang terinspirasi dari budaya Indonesia,” ungkap Daisei Takea di Taman Budaya Denpasar.

Daisei yang telah bergabung selama 2 tahun ini pun mengungkapkan, Wadaiko Dream Team Jepang aslinya terdiri dari 6 orang pemain daiko profesional dan sisanya merupakan siswa termasuk Daisei dan 3 (tiga) orang dari Kota Jakarta.

“Aslinya Wadaiko ini sudah ada sejak 25 tahun yang lalu dengan nama Tim Bonten Jepang yang seluruhnya adalah profesional,” tambah Daisei.

Gempuran khas dari daiko menghentak semangat para penonton yang sudah memenuhi Kalangan Ayodya, Taman Budaya Denpasar, sejak pukul 19.00 wita. Meski menampilkan 12 lagu, namun bagi Daisei dan rekan-rekannya lagu bertajuk ‘Fight’ merupakan favoritnya.

“Fight yang paling kami suka soalnya bisa sambil joged,” tutur Daisei dengan dialek Jepang yang masih menempel.

Dalam penampilannya, gempuran daiko tak mengalun sendiri ada dua alat musik khas Jepang yang turut menemani. Dua alat musik itu diantaranya samisen (gitar khas Jepang-red) dan shinobuya (seruling khas Jepang-red).

Di negara asalnya, jam terbang Wadaiko Grup tidak diragukan lagi.

“Di Jepang kami sudah sering tampil dan untuk di Indonesia kami sudah pernah tampil di Jakarta,” terang Daisei.

Kehadiran Wadaiko Dream Team Jepang di Bali merupakan kali pertama. Meski kali pertama tampil di Bali, respon positif pun dituai oleh Wadaiko grup. Penampilan terakhir yang menjadi puncak adalah lagu yang bertajuk Fight dan Inspirasi de Indonesia.

Pukulan keras daiko beradu dengan teriakkan semangat penonton. Para pemain daiko tak kalah bersemangat, mereka memainkan daiko sembari berloncat-loncat dan berteriak.

Tentunya, untuk menghasilkan garapan yang memukau membutuhkan sebuah proses yang cukup lama.

“Saya sendiri untuk belajar 1 lagu sampai bisa itu butuh waktu 6 bulan, tergantung tingkat kesulitan lagunya juga,” ungkap Daisei.

Penampilan yang sangat memuaskan itu diharapkan mampu menjadi sebuah tali yang menjalin persahabatan antara Jepang dan Indonesia.

“Semoga daiko dan tradisi lainnya bisa dikenal untuk sarana pertemanan baik dengan Indonesia maupun negara lainnya,” harap Daisei penuh senyuman. (*)