Viral Lagi Video Kawah Gunung Agung, BNPB: Jangan Terobos Zona Bahaya

    


Penampakan Gunung Agung pada 22 September 2017 sebelum statusnya ditingkatkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas) pukul 20.30 WITA - foto: Dayu Martini

KORANJURI.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui siaran rilisnya menyayangkan ada video kawah Gunung Agung viral di media sosial. Jika sebelumnya video itu diunggah oleh masyarakat lokal yang menerobos zona larangan hingga ke puncak kawah.

Kali ini adalah warga negara asing melalui akun Facebook ‘Karl Kaddouri’ yang mengunggah video dengan memperlihatkan kondisi kawah Gunung Agung. Video diunggah pada Jumat (6/10/2017) dan menjadi viral di sosial media.

“Ini jelas pelanggaran. Meski sudah tahu berbahaya dan dilarang memasuki zona berbahaya dari Gunung Agung. Apalagi sampai ke puncak kawah. Namun, semua itu dilanggar,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Jumat (6/10/2017).

BNPB menilai, aksi nekat menerobos zona larangan itu sangat berbahaya, mengingat bisa saja terjadi letusan tiba-tiba. Termasuk,
berbahaya bagi orang tersebut maupun bagi tim SAR jika terjadi letusan dan diketahui ada yang menjadi korban di puncak kawah.

Dari penampakan yang ada di video viral sejak Jumat (6/10/2017) kemari, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, sudah ada rekahan dan asap keluar dari kawah hingga ketinggian 50-100 meter dengan tekanan rendah.

Keluarnya asap mengindikasikan adanya pemanasan ke permukaan. Ketebalannya asap menandakan bahwa proses degassing lebih intensif. Warna putih mengindikasikan adanya dominasi air (yang dipanaskan). Suara seperti pesawat mengindikasikan tekanan yang tinggi. Air yang keluar ke kawah lewat lapangan solfatara mengindikasikan adanya gangguan hidrologis di bawah Gunung Agung akibat naiknya magma mendekati permukaan. Artinya, lanjut Sutopo, sangat berbahaya berada di dekat kawah Gunung Agung.

“Sebelumnya, ada masyarakat yang nekat ke kawah Gunung Agung meski sudah dilarang. Mereka menggunakan logika spiritual. Selain itu juga ingin mendoakan agar gunung tidak meletus. Namun sayang, disebarluaskan ke media sosial sehingga menimbulkan keresahan masyarakat,” tambah Sutopo Purwo Nugroho.

Adanya sebagian masyarakat tetap nekad menerobos ke puncak gunung meski berbahaya, juga ada di gunung lain. Tahun 2007 saat Gunung Kelud status Awas, tokoh masyarakat setempat nekat masuk ke zona berbahaya dan membawa sesaji melakukan spiritual dengan maksud berkompromi dengan arwah Lembu Suro yang diyakini bersemayam di dalam kawah Gunung Kelud.

Di Gunung Sinabung, ada warga yang menerobos ke zona berbahaya karena akan melakukan ziarah leluhurnya. Begitu juga ada yang nekat untuk melihat gunung dari dekat dan mendokumentasikan. Tiba-tiba terjadi letusan disertai awan panas sehingga menyebabkan 17 orang meninggal dunia pada 11 Februari 2014.

Jika terjadi letusan, suhu lava pijar yang keluar dari kawah sekitar 700-1.200 derajat celsius. Begitu juga awan panas dengan kecepatan sekitar 200-300 kilometer per jam dengan temperatur mencapai 600 – 800 derajat celsius.

“Ini sangat mematikan bagi orang yang ada di dekatnya,” jelasnya.

Masyarakat dilarang memasuki zona berbahaya di Gunung Agung. Secara visual kelihatannya aman karena tanda-tanda letusan belum tampak. Namun di dalam gunung masih bergolak. Dorongan magma ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tapi terekam dalam instrumentasi yang dipasang oleh PVMBG.

“Janganlah mengambil gambar dan video lalu disebarluaskan ke media sosial. Tindakan ini membuat bingung dan resah masyarakat. Tak ada manfaatnya dengan mengunggah ke media sosial,” himbaunya.

Aparat akan memperketat penjagaan agar masyarakat tidak menerobos zona berbahaya. Namun pihaknya menyadari, tidak mungkin semua wilayah di sekeliling Gunung Agung dijaga aparat sepanjang hari tapi perlu kerjasama dengan semua pihak.

“Sekali lagi, jangan menerobos zona berbahaya di radius 9 km dari puncak kawah dan 12 km di sektor Utara-Timur Laut dan Tenggara-Selatan-Barat Daya dari puncak kawah Gunung Agung. Biarlah Gunung Agung punya gawe, yang penting kita semua selamat,” tambah Sutopo Purwo Nugroho. (*)