Vaksinasi Anjing Secara Massal Turunkan Tren Rabies di Bali

    


foto Ilustrasi

KORANJURI.COM – Vaksinasi massal anjing di Bali menunjukkan tren penurunan rabies hampir di tiap Kabupaten dan Kota. Total populasi anjing di Bali berjumlah 573 ribu ekor dan  yang telah tervaksinasi sebanyak 510 ribu ekor.

“Vaksinasi massal dilakukan pada bulan Maret-Juli 2019 di 716 desa se-Bali. Total cakupan vaksinasi hingga September mencapai 92 persen,” jelas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak) Provinsi Bali, I Wayan Mariana di Denpasar, Sabtu (14/9/2019).

Dikatakan Mariana, masih terlihat kasus rabies yang sifatnya insidental hingga September 2019. Itu terjadi pada anjing yang belum divaksin.

“Misalnya ada kasus anjing yang dibuang pemiliknya atau anjing liar yang berkeliaran di semak-semak hingga pegunungan, yang sulit dijangkau tim kami,” jelasnya.

Sedangkan, dari sembilan kabupaten/kota se-Bali, Kabupaten Tabanan sejak Januari 2019 tercatat nihil kasus rabies. Di Badung terdapat satu kasus, yakni di daerah Kuta Selatan. Sementara di Jembrana muncul satu kasus di Medewi.

Sedangkan di Buleleng hanya terjadi beberapa kasus di daerah Gerokgak. Hal itu, kata Mariana, kemudian ditindaklanjuti dengan vaksinasi ulang dan eliminasi.

Di wilayah Kubu dan Abang, Karangasem juga tercatat masih ada beberapa kasus rabies. Kondisi itu ditindaklanjuti dengan membuat peraturan adat bagi masyarakat yang meliarkan anjingnya akan dieliminasi serta dikenakan denda.

Selanjutnya di Bangli dan Klungkung juga tak jauh berbeda, hanya terjadi satu atau dua kasus yakni, di daerah Kintamani, serta Kabupaten Gianyar satu kasus.

“Intinya semua hanya bersifat insidentil dan kasuistik,” jelas Mardiana.

Upaya pencegahan rabies dilakukan melalui sosialisasi Perda Nomor 15 tahun 2009 tentang Pemberantasan Rabies di Bali. Dalam Perda itu disebutkan, setiap warga masyarakat yang memiliki anjing wajib memelihara dan merawat kesehatan anjing mereka

Sanksinya, pelanggar dijerat hukum pidana dengan ancaman penjara maksimal selama tiga bulan, dan menanggung biaya pengobatan, serta upacara pengabenan jika korban tergigit anjing meninggal dunia.

Pada September 2019 ini akan dilakukan kembali vaksinasi terhadap anjing-anjing yang belum tervaksinasi serta anjing yang baru lahir.

“Ini dilakukan agar Desember (2019, red) mendatang target Bali Bebas Rabies 2020 seperti yang dicanangkan bisa lebih cepat tercapai. Tidak perlu tunggu 2020,” ujarnya. (*)