Ungkapan Sudiarta Dapat Rp 4 Milyar Ganti Lahan Proyek Shortcut

    


Gubernur Bali Wayan Koster, Sekda Provinsi Bali bersama pelaksana proyek dan Wayan Sudiarta dengan latarbelakang rumah baru milik keluarga Wayan Sudiarta - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Ibarat kejatuhan durian runtuh, dua rumah yang terkena jalur proyek Pembangunan Jalan Baru Batas Kota Singaraja-Mengwitani Km 47 (SC 3) di Desa Bungaya mendapatkan ganti keuntungan dengan nilai maksimal.

Tanah seluas 13,5 are milik keluarga Wayan Sudiarta dihitung dengan nilai taksir Rp 4 milyar. Sedangkan bangunan rumahnya juga diganti dengan nilai terpisah oleh Pemprov Bali.

Wayan Sudiarta mengaku, dari uang pengganti itu, pihaknya langsung membangun rumah baru yang jauh lebih bagus dari rumah yang sebelumnya ditinggali.

“Awalnya dua rumah di depan itu, setelah digusur sekarang bangun yang baru ini,” jelas Sudiarta menunjukkan bangunan bertingkat calon rumah barunya, Jumat, 7 Juni 2019.

Sudiarta pun mengaku sampai saat ini tidak pernah tahu jumlah uang itu. Karena, begitu uang pembayaran tanah dan bangunan itu diterima, langsung ditabung di Bank.

“Sampai saat ini saya tidak pernah tau uang itu, langsung dimasukkan di Bank,” ujarnya.

Gubernur Bali Wayan Koster secara tidak sengaja bertemu dengan Sudiarta ketika meninjau perkembangan pembangunan shortcut 3 di Desa Bungaya. Gubernur mengatakan, dalam proyek itu, Pemprov Bali mengucurkan anggaran pembebasan sebesar Rp 230 milyar.

Gubernur menginginkan, penggusuran lahan diberikan kompensasi semestinya sehingga tidak membuat warga merasa menjadi korban.

“Seperti tadi pak Sudiarta, senang sekali dia. Memang seharusnya begitu, kita memberikan kompensasi lahan berikut bangunannya. Jadi cara-cara dengan pendekatan kultural seperti itu tidak membuat gejolak di masyarakat, justru mereka senang,” jelas Gubenur.

“Ini merupakan pendekatan baru yang kami lakukan. Saya melihat selama ini, setiap pembangunan infrastruktur selalu ada gejolak di masyarakat. Karena menurut saya, cara menanganinya kurang kultural, kurang beradab. Masyarakat mendukung saja sudah bagus,” tambah Koster. (Way)