Turis Jepang ini Penggemar Berat Batu Akik

    


Batu akik juga diminati oleh wisatawan asing di Bali

KORANJURI.COM – Terlihat di pameran Ramayana Mall Denpasar, perempuan Jepang bernama Chie ini mengaku sangat menggemari batu akik. Di jari tangannya, kanan dan kiri, ada enam buah cincin akik melingkar. Ia mengaku sangat suka dengan akik bergambar pemandangan.

Wanita yang sudah 7 tahun tinggal di Ubud Bali ini mengaku paling suka dengan Edong Garut. Corak batunya lebih sering memunculkan karakter pemandangan ketimbang pancawarna lainnya. Kepada Koranjuri.com, Chie dengan bangga menunjukkan koleksi yang dipakainya.

“Lihat, ini pemandangan ada gambar mirip salju dan satu lagi gambar hutan,” kata Chie menunjukkan liontin yang dipakainya.

Ia sepertinya tak mempedulikan apakah ring batu akiknya sesuai dengan penampilannya yang feminine. Dari semua style ikatan yang dipakainya, rata-rata berukuran besar dengan desain ukiran Bali. Chie mengaku mendapatkan koleksinya itu dengan berburu dari pameran ke pameran dengan harga yang sangat terjangkau.

“Ini harganya Rp 50 ribu kalau yang ini Rp 100 ribu,” ujarnya dengan bahasa Indonesia.

Ketika ditanya berapa varian batu akik yang sudah dikoleksinya, ia menjawab, belum sempat menghitungnya. Tapi yang jelas, ada lebih banyak dari yang dikenakannya saat itu. Untuk memburu batu-batu akik, bahkan ia tak segan sengaja mencari kegiatan pameran hingga ke Tabanan. Dan, yang dicari cuma satu varian saja yakni batu bermotif pemandangan.

Bahkan ada kejadian unik dari ketertarikannya mengkoleksi akik bergambar. Chie sempat menawar akik bermotif yang telah memenangkan kontes dengan harga Rp 100 ribu. Sementara, penjualnya pasang bandrol Rp 10 juta.

“Dari dulu ngejar saya terus itu, nawarnya juga segitu aja,” kata seorang pelapak sambil tersenyum kecut.

Saat ini, Chie mengaku begitu kesengsem dengan batu bacan. Ia datang ke pameran untuk mencari batu idolanya yang ia tunjukkan sebagai bacan varian yellowish green yang harganya bisa tembus hingga puluhan juta. Ia begitu merasa yakin kalau akik idolanya itu bisa didapatnya dengan harga murah.

Tapi kalau bicara soal batu akik, sepertinya pemahaman Chie sudah cukup untuk kelas turis meski sudah bermukim lama di Bali. Ia bisa membedakan mana akik sintetis, masakan dan batu akik asli. Di jari telunjuknya ada satu cincin jenis obsidian yang sangat ia suka. Chie mengaku suka dengan warna biru toscha yang tembus cahaya. Meski ia sendiri juga tahu kalau batu tersebut adalah obsidian. Namun tetap dibeli seharga Rp 250 ribu.

“Ini obsidian, saya juga tahu. Cuma saya suka warnanya dan saya beli mahal Rp 250 ribu di Ubud,” kata Chie sambil berlalu menuju kantor Imigrasi.

way