Tradisi Turun Temurun yang Masih Dirayakan Warga Keturunan Tionghoa

    


Suasana pembagian angpao di perayaan Imlek bersama klenteng Thong Hwie Kiong - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Ratusan warga Tionghoa, simpatisan klenteng Thong Hwie Kiong, Purworejo, rayakan Imlek bersama, Sabtu 13 Februari 2016 malam. Suasana merah menyala, tampak mendominasi klenteng tua yang berada di belakang pasar Baledono itu.

Acara makin meriah, dengan sajian aneka hiburan, seperti pentas seni, atraksi wushu, serta pentas operet oleh anak-anak SD Mutiara Ibu.

Menurut Tan Koe Siong, atau yang biasa dipanggil Sungkono (75), salah satu panitia, merayakan Imlek bersama merupakan tradisi turun temurun warga Tionghoa, yang sudah ada sejak ribuan tahun silam.

“Tanggal 1 sampai 15 setelah Imlek, masih dalam suasana Imlek. Pada hari-hari itulah, kami biasa merayakan Imlek bersama,” jelas Sungkono.

Lebih jauh Sungkono menjelaskan, tradisi merayakan Imlek bersama merupakan ajang silaturahmi para warga Tionghoa. Lewat acara ini, bisa makin memperkuat rasa persaudaraan, tak hanya sesama warga Tionghoa, tapi juga dengan warga sekitar.

Sejumlah pejabat Muspida tampak hadir dalam perayaan Imlek bersama itu. Pasangan bupati-wakil bupati terpilih, Agus Bastian-Yuli Astuti juga hadir.

Sebagai puncak acara dari perayaan Imlek bersama itu, acara pembagian angpao bagi anak-anak dan warga sekitar. Panitia sudah mempersiapkan 400 angpao berwarna merah berisi sejumlah uang. Dan pembagian angpao inilah yang paling ditunggu-tunggu. Warga saling berebut untuk mendapatkannya.

“Acara pembagian angpao memang yang paling dinanti. Mitosnya, uang dalam angpao dari klenteng ini penuh berkah,” pungkas Sungkono.
 
 
Jon