Tokoh Puri Gerenceng: Kerukunan Umat Beragama Sudah Lama Terjaga

    


Penglingsir Puri Gerenceng yang juga tokoh PHMB bersama Ustad Wijayanto yang mengisi acara Maulid Nabi di Kabupaten Badung, Selasa, 13 Desember 2017 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Toleransi keagamaan di Bali sampai saat ini tetap terjaga dengan baik. Kondisi itu, kata tokoh Persaudaraan Hindu Muslim Bali (PHMB), Anak Agung Ngurah Agung dari Puri Gerenceng, Denpasar, terlihat dari banyaknya tempat ibadah dari berbagai agama yang ada di seluruh pelosok Bali.

Bahkan, dalam kegiatan keagamaan umat non Hindu pun, Pecalang turut terlibat dalam penjagaan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi umat lain untuk beribadah.

Begitu pun sebaliknya, kata Ngurah Agung, ketika umat Hindu Bali merayakan hari raya keagamaan, umat dari agama lain saling bahu membahu membantu.

“Insiden kecil seperti yang terjadi kemarin, jangan dibesar-besarkan lagi. Cukuplah, semua pihak sudah saling duduk bersama, saling berembug, tidak perlu diperpanjang lagi,” kata pendiri Persaudaraan Hindu Muslim Bali ini, Selasa, 12 Desember 2017.

Di wadah PHMB pun, Ngurah Agung menjelaskan, ada tradisi kebersamaan antara umat Hindu dan Muslim dengan menggelar pengajian yang diadakan di Puri Gerenceng.

Tradisi kerukunan itu sudah terbangun sejak lama. “Bagi saya semua saudara, tidak ada perbedaan dari mana asal usulnya, keyakinannya, itu tidak perlu dipertentangkan lagi,” kata Anak Agung Ngurah Agung yang cukup dikenal dengan sebutan ‘Gung Muslim’.

Puri Gerenceng, jelas Anak Agung Ngurah Agung, juga kerap menerima kunjungan para tokoh-tokoh muslim baik Kyai maupun Ustad. Dalam lawatannya, ke seluruh pelosok Bali, Anak Agung Ngurah Agung juga selalu menyambangi penganut agama lain untuk bersilaturahmi.

“Sejak dulu kami sudah menjalin hubungan baik. Toleransi itu sudah diwariskan oleh nenek moyang kami sampai sekarang,” ujar Anak Agung Ngurah Agung.

Bahkan di kawasan Nusa Dua, Bali, dibangun 5 tempat ibadah saling berdampingan yang disebut Puja Mandala. Tempat peribadatan 5 penganut agama di Indonesia itu sebagai simbol kerukunan antar umat beragama yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.(Way)