Titipan Jenasah di RS Overload, PHDI dan MUDP Himbau Segera Diambil dan Diupacarai

    


Bendesa Agung Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali Jero Gede Suwena Putus Upadesha (kanan) dan Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Bendesa Agung Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali Jero Gede Suwena Putus Upadesha, menghimbau kepada masyarakat yang menitipkan jenasah di Rumah Sakit agar segera diambil.

Hal itu terkait dengan keputusan Pasamuhan Madya Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali bernomor 01/Pesamuhan-Madya/PHDI-Bali/VIII/2018.

“Banyak saya lihat jenasah dititipkan di Rumah Sakit, padahal aturan itu tidak melarang untuk melakukan upacara, hanya saja yang boleh dilakukan hanya mependemdan mekinsan,” jelas Upadesha, Selasa, 19 Maret 2019.

Upadesha menambahkan, ada salah persepsi dari masyarakat di Bali mengenai prosesi pengurusan jenasah, terkait larangan melakukan upacara Ngaben selama Upacara Panca Wali Krama, sejak 20 Januari 2019 sampai 4 April 2019.

Di lapangan, masyarakat memaknainya dengan tidak melakukan prosesi penguburan mayat dan terpaksa menitipkan di rumah sakit. Saat ini rumah sakit pun kewalahan dalam mengurus penitipan jenasah.

MUDP mengimbau masyarakat untuk tidak menitipkan mayat karena penguburan jenasah boleh dilakukan. Hanya prosesi ngaben yang tidak diperkenankan kecuali untuk pendeta.

Adapun ngaben adalah prosesi pembakaran mayat yang dapat dilakukan langsung dengan membakar badan kasar ataupun tulang sisa yang telah dikubur.

“Jenasah harusnya dihormati dan ditempatkan dengan baik, kebanyakan orang menempatkan jenasah begitu saja di rumah sakit,” katanya, Selasa (19/3/2019).

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., menambahkan, penguburan jenasah boleh dilakukan saat sore maupun malam hari. Setelah proses penguburan dilakukan masyarakat dipastikan tidak akan terkena cuntaka atau keadaan kotor dan dapat melakukan persembahyangan seperti biasa.

“Jika ada jenasah mohon segera dipindahkan ke setra (kuburan) dan diselesaikan dengan < i>mekinsan di geni (pembakaran dengan abu disimpan di guci) atau pertiwi (penguburan,” kata Ngurah Sudiana.(Way/*)