Tim Matching Fund Kedaireka Udinus-Undip Gelar Workshop Potensi Dan Pemasaran Garam Industri

    


Keterangan gambar : Workshop dengan tema ' Potensi dan Pemasaran Garam Industri ' yang diselenggarakan oleh Tim Matching Fund Kedaireka UDINUS - UNDIP Semarang / Foto: Koranjuri

KORANJURI.COM-Garam merupakan komoditi strategis dan memiliki potensi ekonomis sangat tinggi. Kebutuhan garam di Indonesia saat ini sangat besar, namun secara keseluruhan belum cukup dipasok oleh produksi garam milik petani lokal, khususnya untuk kebutuhan garam industri.

Sehingga diperlukan langkah strategis untuk mengelola potensi komoditi tersebut. Tak terkecuali tata kelola pemasaran garam lokal juga harus di kelola dengan baik, agar kebutuhan garam nasional untuk industri tiap tahun dapat terpenuhi.

Untuk memaksimalkan potensi dan tata kelola pemasaran garam nasional, perlunya sinergitas para stekholder, dalam hal ini pemangku kebijakan, petani garam dan unsur akademisi.

Yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani dan dunia industri garam.

Begitupun perguruan tinggi, akan memperoleh manfaat untuk mahasiswa dan dosen.

Oleh karena melihat besarnya potensi strategis garam industri di Indonesia, Tim Matching Fund Kedaireka Universitas Dian Nuswantoro ( UDINUS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Rabu siang (27/10) menggelar workshop dengan tema ‘ Potensi dan Pemasaran Garam Industri’.

Workshop menghadirkan narasumber Devita Ayu Mirandati, S.E., M.Si selaku Kepala Pengembangan SDM & Inovasi Industri Agro DISPERINDAG JATENG. Pembahas Dr. Ir. Sudarto, MM inovator sekaligus praktisi garam di Indonesia. Dipandu oleh Moderator H. Ngargono, S.Sos dari Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah.

Mengawali sambutanya, Ketua Tim Matching Fund Kedaireka UDINUS, Prof.Kusmiyati, S.T., M.T., P.hD mengatakan, sangat ironis potensi sumber daya alam yang begitu besar di Indonesia tetapi belum dapat di manfaatkan secara maksimal.

‘ Untuk itu harus ada upaya pengelolaan tehnologi yang tepat agar garam lokal dapat meningkat menjadi garam Industri.’ Terang Prof. Kusmiyati dalam sambutanya.

Di tambahkan Kusmiyati, program pengembangan potensi dan pemasaran garam industri melalui workshop sebelumnya sudah di diskusikan oleh tim Matching Fund kedaireka UDINUS – UNDIP Semarang. Selanjutnya Tim Matching Fund Kedaireka UDINUS – UNDIP menyelenggarakan workshop dengan dukungan anggaran dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tehnologi.

Dengan harapan bisa memberikan manfaat bagi industri garam, perguruan tinggi, mahasiswa dan dosen. Dosen dapat menerapkan hasil penelitianya langsung dilapangan, sehingga manfaatnya dapat langsung di rasakan oleh para petani garam.

Melalui kerjasama antar perguruan tinggi dengan industri garam, mahasiswa dapat melakukan KKN, penelitian dan tugas akhir langsung di industri garam. Sehingga akan diperoleh lulusan yang berkualitas, baik softskill maupun hardskillnya.

Di akui Prof. Kusmiyati, saat ini belum ada tehnologi dimiliki para petani garam yang dapat mempercepat proses produksi garam lokal. Semua masih tergantung pada kondisi cuaca. Harga garam milik petani juga belum dapat bersaing di pasaran, di karenakan ongkos biaya produksi garam relatif masih sangat mahal. Salah satu kendala akibat pasokan listrik yang masih mempergunakan mesin diesel.

Tak terkecuali cara pemasaran garam juga masih tradisional, belum mempergunakan digital marketing.

Oleh sebab itu melalui workshop ‘ Potensi dan Pemasaran Garam Industri’ di harapkan akan diperoleh solusi mengelola potensi garam lokal menjadi garam industri, dengan cara menaikan produksi dan kualitas garam lokal menjadi garam industri liwat penerapan tehnologi. Papar Ketua Matching Fund Kedaireka UDINUS

Sebagai narasumber, Kepala Pengembangan SDM & Inovasi Industri Agro DISPERINDAG JATENG dalam workshop menyampaikan, perlunya pemerintah memberlakukan kebijakan memaksa dunia industri untuk menggunakan garam lokal yang sesuai dengan standar kualitas.

Tak terkecualai melakukan pembinaan dan treatmen setelah keluar dari tambak. Agar kadar garam yang di hasilkan para petani lokal bisa sesuai dengan parameter dan ketentuan yang berlaku untuk garam industri.

‘ Selain garam petani lokal laku di pasaran, negara juga tidak perlu impor ‘ Ujar Devita Ayu Mirandati, S.E., M.Si./ Jk