Tiga Pasar Tradisional di Klungkung Resmi Terapkan Pembayaran Non Tunai QRIS

    


Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPW) Provinsi Bali Trisno Nugroho dalam kegiatan digitalisasi kawasan pusat pasar tenun dan pasar tradisional Klungkung, Senin, 8 November 2021 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Digitalisasi menjadi salah satu cara terbaik dalam mendorong produk ekonomi dan sektor pedagangan, termasuk pasar tradisional. Hal itu juga didukung oleh perubahan pola berbelanja masyarakat yang mulai menggunakan cara digital.

Keberadaan pasar modern, outlet penjualan hingga UMKM juga mulai menyediakan sarana belanja digital dengan pembayaran melalui aplikasi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPW) Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan, transaksi non tunai juga harus didorong kepada pelaku usaha di pasar-pasar tradisional.

“Kenal QRIS sama dengan kenal dengan kunci rumah, nanti pedagang secara perlahan-lahan akan tahu, dan kalau sudah terbiasa nanti akan masuk marketplace dan onboarding disana,” kata Trisno Nugroho di Klungkung, Bali, Senin, 8 November 2021.

Dalam kegiatan digitalisasi kawasan pusat pasar tenun dan pasar tradisional Klungkung, Trisno mengatakan, digitalisasi QRIS secara resmi akan diterapkan di Pasar Galiran, Pasar Semarapura dan Pasar Kusamba.

Saat ini, kata Trisno, di Bali terdapat 355 ribu merchant UMKM dan di Klungkung hanya 6.200 merchant atau hanya 2% dari jumlah total di Bali.

QRIS bukan aplikasi tapi merupakan kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia dan asosiasi pembayaran untuk semua Bank. Bank Indonesia mentargetkan jumlah merchant pengguna QRIS di Bali sebanyak 363.000. Sedangkan target di Indonesia sebanyak 12 juta merchant.

Sementara, Bupati Klungkung Wayan Suwirta menambahkan, digitalisasi selaras dengan perubahan perilaku masyarakat di tengah pandemi. Suwirta mengatakan, untuk menopang perekonomian tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor.

“Kalau kita hanya mengendalkan sektor pariwisata saja terlalu riskan. Harus dihidupkan sektor lain penopang pariwisata,” jelas Suwirta.

Sektor penopang pariwisata yang didukung digitalisasi, menurutnya, kedepan akan menjadi kebutuhan.

“Kita tidak usah menunggu kesadaran mereka. Saya akan bergerak cepat, kita akan merubah, modernisasi pasar akan ditunjukkan lebih dulu,” kata Suwirta. (Way)