The Hope, Karya Tanpa Akhir

    


The Hope, karyanya yang dibuat sejak 2012 berukuran 100 x 170 cm - foto: Eka/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Perupa yang telah banyak menjelajahi berbagai pameran ini akrab dipanggil Arik. Ia memilih visual lukisannya dengan unsur seperti sosok, simbol, juga serpihan-serpihan.

Menurut Arik, seni adalah realitas diatas kanvas ataupun kertas yang dilihat dari sudut pandang yang dibangun dari garis-garis, berbentuk ruang, bidang dan figur. Sebagian realita mengadirkan peristiwa. Disinilah keriuhan dapat menghadirkan makna, hikmah, ketakjuban, ketakberdayaan dan sebagiannya lagi yang menjadikan stimulan bagi mereka yang ingin memberi makna baru.

Dikatakan Arik, kesenian bukanlah mengulang realitas. Karena itu drawingnya bukan saja menawarkan narasi estetika, melainkan juga simbol-simbol sebagai tafsir estetik.

Arik - foto: Eka/Koranjuri.com

Arik – foto: Eka/Koranjuri.com

“Saya belum bisa dikatakan painting. Tahapan demi tahapan saya nikmati. Sketsa bentuk, drawing, dan painting tahapan penting yang mesti saya lalui. Sekarang ini saya masih menikmati tahapan drawing dan nanti saya akan beranjak ke painting,” jelas Arik.

The Hope, hasil karyanya yang di buat sejak 2012, dengan ukuran 100 x 170 cm, adalah mix media. Mengisahkan sebuah perjalanan Raft of the Refugees. perjalanan yang tiada henti, karya yang tak pernah selesai. Jika dilanjutkan akan mengalir terus.

Namun karya ini sudah cukup mewakili kesempurnaan kisah sang perupa sebagai transformasi batin yang pernah mengalami zero spot. Yaitu antara hidup dan mati bak harapan yang telah tiada menemui transenden dalam perjalanan batin.

“Tiada lagi kenyamanan hidup, membaca kehidupan sosial yang lebih luas merekam ketidaknyamanan membawa karya itu terwujud dengan berangsur sebagai the Hope,” jelas Arik. (Eka)