Teror Cap Telapak Tangan di Tembok Rumah Warga, Danrem: TNI/Polisi Gencarkan Patroli

    


Komandan Korem 162/WB, Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Merebaknya cap telapak tangan di rumah-rumah warga pasca gempa Lombok, menjadi semacam teror tersendiri bagi sejumlah warga pengungsi gempa. Mengingat, ketakutan warga akan situasi tersebut akan dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab.

Warga di Lombok Tengah ikut merasakan keresahan itu. Kepala Dusun Montong Dauh, Andi Lala Merti mengakui sebagian warganya merasa takut dengan cap telapak tangan yang merebak usai terjadinya gempa.

“Warga tidak berani meninggalkan harta bendanya, meski rumah mereka sudah rubuh. Terpaksa mereka mendirikan tenda di dekat puing-puing rumah mereka yang roboh demi menjaga harta benda yang masih tersisa,” jelas Andi kepada tim IMO Bali yang datang ke lokasi beberapa waktu lalu.

Sementara, Komandan Korem 162/WB, Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, cap telapak tangan itu mendapatkan perhatian serius dari aparat. Situasi meresahkan itu kini tengah ditangani oleh Polda NTB.

“Ada rekayasa dari oknum masyarakat atau kelompok-kelompok yang sengaja membuat resah dengan harapan masyarakat meninggalkan rumah masing-masing sehingga mereka masuk kerumah-rumah tersebut untuk mengambil barang-barang milik warga,” jelas Ahmad Rizal Ramdhani, Kamis, 30 Agustus 2018.

Setiap malam, kata Ahmad, TNI tetap melakukan patroli bersama Polda untuk mengamankan rumah-rumah warga yang ditinggal pemiliknya. Biarpun kondisi rumah tersebut sudah luluh lantak dan rata dengan tanah.

Pada masa transisi pemulihan gempa, sejumlah instansi gencar melakukan edukasi di tengah masyarakat. Beberapa diantaranya, TNI, BMKG dan tokoh agama.

Ihsan Bagus Fahat Arafat, dari BMKG Mataram menjelaskan, gempa bumi setiap hari terjadi diseluruh dunia. Namun gempa di Jawa berbeda dengan gempa di Kabupaten Lombok Utara. Menurut Ikhsan penjelasan itu mengacu pada sumber gempa yang berbeda.

“Yang terjadi di Selatan, terakhir di Kupang sebagai akibat dari subduction lempeng Australia yang berusaha masuk ke lempeng Euro Asia,” jelas Ikhsan.

Pihaknya terus memonitor gempa susulan karena sejak tanggal 29-30 Agustus 2018, telah terjadi 1.943 kali gempa susulan, dengan frekuensi dan kekuatan yang semakin kecil.

“Kita semua berharap dalam waktu tidak terlalu lama kembali menjadi normal,” ujar Ikhsan. (Way/*)