Terminal Ubung Riwayatmu Kini, Terminal Mengwi Tak Memberi Harapan Pasti

    


Aksi yang dilakukan Paguyuban Bus AKAP dan pedagang di Terminal Ubung. Mereka menuntut pengembalian fungsi semula dari terminal Ubung, Denpasar, sebagai transit pool bus AKAP - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Persoalan terminal Tipe A Mengwi yang tak berfungsi semestinya bukan saja merepotkan penumpang bus trayek ke pulau Jawa atau menuju ke Bali. Namun juga mengancam kehidupan pedagang yang berjualan di terminal.

Di terminal Ubung, hampir tidak ditemukan lagi pedagang yang mengais rejeki disana. Demikian pula di terminal Mengwi. Pedagang juga mengeluhkan sepinya pengunjung.

Persoalan itu mendapat tanggapan dari ketua DPRD Provinsi Bali, Nyoman Adi Wiryatama. Fakta yang ada di lapangan, kata Adi Wiryatama, jaringan kendaraan pengumpan dari terminal Ubung (tipe C) menuju Terminal Mengwi terputus.

Kondisi itu memicu serangkaian dampak hingga mengancam keberlangsungan ekonomi pedagang di kedua terminal itu.

“Faktanya terminal Mengwi tak punya jaringan atau feeder putus, dari Ubung ke Mengwi dan dari Mengwi ke Ubung. Pedagang juga mengeluhkan tidak adanya tempat untuk membuka lapak mereka. Karena sepi pembeli,” jelas Adi Wiryatama usai menemui sejumlah pedagang di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Senin, 5 Februari 2018.

Menanggapi persoalan itu, pihaknya akan berusaha untuk mengembalikan fungsi terminal Ubung seperti semula. Hanya saja, pihaknya terbentur dengan peraturan terkait fungsi terminal Tipe C dan segala kewenangannya ada di Kota Denpasar.

“(Terminal) Tipe A itu diatur oleh pusat, bukan keputusan kita yang mengatur disana. Pedagang pun merasakan dampaknya, ini menyangkut masalah perut. Jadi kita benar-benar berpikir untuk menyelesaikannya,” jelas Adi Wiryatama.

Sementara, Ketua Paguyuban Bus AKAP Bali Taufik mengatakan jumlah Perusahaan Otobus di Bali ada 62 perusahaan. Namun, sejak kepindahan dari terminal Ubung ke Mengwi, jumlahnya terus turun hingga sekarang hanya ada 30 PO Bus.

“Banyak yang bangkrut. Karena tidak ada aliran penumpang, pendapatan paguyuban juga menurun,” jelas Taufik.

Selain itu, tarif angkutan dari Terminal Ubung ke Terminal Mengwi juga cukup mahal.

“Parahnya, tidak adanya konekting angkutan dari Terminal Mengwi yang mendistribusikan penumpang AKAP. Sedangkan angkutan Trans Sarbagita baru ada dari jam 9 pagi sampai 5 sore,” terang Taufik.

Ia berharap, sebelum Terminal Mengwi memadai, bus AKAP diberi kesempatan kembali masuk ke Terminal Ubung secara langsung. (*/Way)