Teman Karib Ceritakan Terbunuhnya Dominggus Dapa Saat Pesta Miras di Gelogor Carik

    


Sejumlah kerabat dan pengurus organisasi warga NTT di Bali melayat di Rumah Duka Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Selasa, 2 Juli 2019 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Agustinus Luna Zada (27), kawan disaat Dominggus Dapa (27) terbunuh, menceritakan kronologis peristiwa yang terjadi. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Denpasar ini sekaligus mengklarifikasi perihal namanya yang tertulis di media sebagai pelaku.

“Yang sebelumnya ditulis di media itu nama saya, bukan pelaku, dan saya salah satu korban juga selain Dominggus,” jelasnya ditemui di Rumah Duka RSUP Sanglah Denpasar, Selasa, 2 Juli 2019 malam.

Terduga pelaku berinisial AK yang saat ini telah diamankan polisi. Menurut Agustinus, kejadian berawal ketika ia dan korban Dominggus Dapa menghadiri pesta ulang tahun kerabat di warung Pondok Mangga (Mr. Odon), Gelogor Carik, Denpasar pada Sabtu (28/6/2019).

“Kami datang sore sekitar pukul 18.00 Wita bersama korban. Pelaku juga diundang disitu dan kami, korban dan saya, tidak saling kenal dengan pelaku,” ujar Agustinus.

Malam pesta ulang tahun itu dihabiskan dengan berkumpul sambil berpesta miras. Sekitar pukul 20.30 Wita, korban Agustinus Luna Zada dan korban meninggal Dominggus Dapa berniat pamit.

Namun, pelaku menahan keduanya agar jangan pulang dulu karena miras belum habis. Antara Dominggus dan pelaku sempat terjadi cekcok mulut. Namun di saat yang sama, ada keributan lain terjadi.

Antara pelaku dan korban Dominggus Dapa, termasuk Agustinus, ikut melerai keributan itu. Saat berusaha melerai, tanpa sengaja, tangan pelaku mengenai wajah korban Dominggus. Kemudian korban menampar wajah pelaku.

“Pelaku sepertinya tidak terima dan mengambil pisau di motornya. Saya sempat membela Dominggus dan menendang pelaku, tapi justru kaki saya ditusuk pisau yang dibawanya,” jelas Agustinus.

Saat itu, pelaku mengejar korban dan menusuk punggung sebelah kanan. Kemudian, pisau itu ditusukkan kembali mengenai perut sebelah kiri dan pinggang sebelah kanan. Korban pun tergeletak bersimbah darah.

Agustinus mengatakan, Dominggus Dapa masih bertahan sesaat setelah ditikam di tempat kejadian perkara. Namun sesampainya di RSUP Sanglah, jiwanya tak tertolong.

Agustinus mengatakan, Dominggus Dapa merupakan pribadi yang baik dan mudah bergaul. Ia memutuskan hidup di Bali setelah kandas mengenyam bangku kuliah di Malang, Jawa Timur.

“Disini bekerja dan sudah lima tahun tinggal di Bali. Dia (Dominggus Dapa) sebelumnya kuliah di Malang,” terangnya demikian. (Way)