Tayuban Ramaikan Ritual Merti Desa

    


Pentas seni tayub, dalam ritual merti desa Kelurahan Purworejo, Sabtu (1/4) - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Setiap tahun sekali, masyarakat Kelurahan Purworejo, selalu menggelar ritual Merti Desa. Ritual yang dilaksanakan pada bulan Rajab ini (penanggalan Jawa), sebagai bentuk penghormatan pada leluhur desa.

Demikian dikatakan Rita Purnama, Kepala Kelurahan Purworejo. Untuk tahun ini, beragam kegiatan dilaksanakan dalam Merti Desa.

“Tradisi ini diawali dengan ziarah dan bersih-bersih makam Kyai Brengkel, pada hari Kamis (30/3). Beliau ini leluhur warga Purworejo,” jelas Rita, Senin (3/4).

Usai ziarah, pada Jum’at sore (31/3), digelar ritual Kenduri Agung di kelurahan, yang dihadiri warga dan para sesepuh serta tokoh masyarakat. Dan pada Sabtu (1/4), digelar pentas tayuban, dari grup tayub Tresno Laras, Sumberagung. Dan sebagai puncak kegiatan, pada Senin (3/4) malam diadakan pengajian, dengan menghadirkan KH Amin Budiharjono dari Semarang.

Dari kesekian kegiatan dalam Merti Desa tersebut, kata Rita, yang tak boleh dilupakan adalah, pentas seni tayub. Tayub, menurut Rita, mempunyai makna, ditoto ben guyup.

“Semua tradisi ini. Peninggalan Eyang Ronggo Surodimejo (Kyai Brengkel). Beliau ini, yang babad alas wilayah ini,” terang Rita, yang sudah 7 tahun menjadi Kepala Kelurahan Purworejo ini.

Cerita Rita, yang mendengar kisah ini dari sesepuh setempat, Ki Ronggo Surodimejo ini hidup pada masa Perang Diponegoro. Beliau diyakini salah satu senopati P. Diponegoro.

Setelah perang Diponegoro usai, Ki Ronggo babad alas, dan mendirikan pemukiman, yang dulunya bernama Brengkelan. Itulah kenapa, Ki Ronggo ini akhirnya juga dikenal dengan sebutan Kyai Brengkel.

“Dan seni tayub dalam merti desa ini, merupakan budaya peninggalan beliau yang harus kita lestarikan,” pungkas Rita.
 
 
Jon