Tari Sakral Bukan untuk Pecahkan Rekor MURI

    


Keterangan pers terkait penguatan dan perlindungan tari sakral Bali di Rumah Jabatan Gubernur Bali Jaya Sabha, Denpasar, Selasa, 17 September 2019 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, tarian sakral yang digunakan tidak sebagaimana mestinya bisa disebut desakralisasi.

“Tidak boleh tarian sakral untuk, misalnya, memecahkan rekor MURI, ini bisa dikatakan desakralisasi,” kata Gubernur Koster di Jaya Sabha, Selasa, 17 September 2019.

Menurut Koster, tarian sakral tumbuh di masyarakat melalui Desa Adat yang diciptakan untuk kepentingan upakara keagamaan Hindu Bali.

Seniman, Budayawan dan Akademisi Prof. Dr. I Made Bandem, menambahkan, ada lebih dari 10 ribu tarian sakral di Bali yang telah didata berdasarkan klasifikasi yang dirumuskan tahun 1971. Ada 2 klasifikasi yakni tarian yang masuk dalam Wali dan Bebali disebut sebagai tari sakral. Sedangkan klasifikasi Bali-balian adalah tari yang dipentaskan dalam pertunjukan.

“Pemutakhiran data terus dilakukan. Tahun 2015 justru ada 10.049 sekehe yang ada di Bali dan itu tetap masuk dalam domain Wali dan Bebali,” jelas Made Bandem.

Dalam hal ini, pemerintah provinsi Bali mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani Ketua PHDI, Bendesa Agung, Ketua Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibiya), Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan Rektor ISI Denpasar.

SKB itu berisi tentang penguatan dan perlindungan tari sakral Bali. Tarian sakral itu dikelompokkan dalam Kelompok Tari Baris Upacara yang terdiri dari 52 tarian, Kelompok Tari Sanghyang, terdiri dari 26 tarian, Kelompok Tari Rejang ada 26 tarian dan Kelompok Tari Barong Upacara ada 11 tarian.

Selain kelompok tari itu, yang termasuk tarian sakral yakni, Tari Pendet Upacara, Tari Gayung, Tari Janger Maborbor, Tari Telek/Sandaran, Tari Topeng Sidakarya, Tari Sutri, Tari Gandrung/ Gandrangan Upacara, Tari Gambuh Upacara, Tari Wayang Wong Upacara, Wayang Kulit Sapuh Leger, Wayang Kulit Sudamala/ Wayang Lemah, dan Tari Sakral Lainnya yang menjadi bagian utuh dari ritus, upacara dan upakara yang dilangsungkan di berbagai Pura dan wilayah Desa Adat. (Way)