Tak Terkait dengan Gerai Tiongkok, Asosiasi GM Hotel Jelaskan, November adalah Low Season

    


Wisatawan menikmati ketenangan ombak di pantai Karang, Sanur - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali I Nyoman Astama SE., CHA., mengatakan jika saat ini kunjungan turis ke Bali mengalami penurunan atau low season. Hal itu menurutnya, tidak terkait langsung dengan penutupan gerai Tiongkok berjaringan yang ada di Bali.

Dijelaskan Astama, di bulan-bulan tertentu seperti Februari dan November tingkat kunjungan wisatawan akan turun. Tapi nanti menjelang Natal dan pergantian tahun, kunjungan turis akan meningkat lagi.

“Biasanya di tanggal 15-16 Desember kunjungan wisatawan akan meningkat lagi setelah low seasons yang dimulai sejak 1 November. Yang terasa memang di bulan November, kalau Februari tidak begitu turun, itu sudah jadi musim yang dialami kepariwisataan di Bali,” jelas Astama.

Mulai 16 Desember, umumnya, pasar serta permintaan pemesanan kamar akan meningkat.

Ditambahkan Astama, turunnya kunjungan wisatawan itu berlaku untuk semua market.

“Bukan saja turis Tiongkok yang sepi kunjungan, tapi dari semua wisatawan asing kunjungannya ke Bali menurun,” jelasnya demikian.

Surat Gubernur bernomor 556/4227/IV/Dispar, terkait Penertiban Usaha Pariwisata seperti menjadi ‘kambing hitam’ atas lesunya kunjungan turis asing ke Bali.

Namun di lain hal, Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), melalui Wakil Ketum DPP IHGMA, I Made Ramia Adnyana, SE., MM., CHA., mendukung langkah Gubernur Bali I Wayan Koster dalam menertibkan usaha pariwisata yang melanggar aturan.

Ramia yang juga Chairman Indonesia Tourism Outlook (ITO) ini menilai, kepariwisataan Bali harus dijaga kualitasnya dengan basis budaya yang berkelanjutan.

“Terkait penutupan outlet yang melanggar aturan, kami sangat mendukung langkah Gubernur. Jangan sampai pariwisata Bali anjlok karena persaingan harga tidak sehat yang diterapkan oleh pelaku pariwisata yang dalam hal ini, tidak mau ikut membangun Bali,” jelas Ramia, Sabtu, 17 November 2018.

Seperti dikatakan Ramia, surat Gubernur Bali yang terdiri dari 3 poin itu mengatur tentang usaha Akomodasi, usaha perjalanan pariwisata dan usaha perdagangan yang melakukan praktek usaha tidak sehat dan melanggar peraturan perundang-undangan.

Namun akhirnya, menurut Ramia, ada pihak-pihak yang memelintir bahkan membelokkan maknanya sehingga menjadi bias dan salah tafsir.

“Untuk yang melanggar aturan memang seyogyanya harus ditertibkan,” ujarnya.

Di tempat lain, Gubernur Bali Wayan Koster, menggelar coffee morning bersama tokoh pariwisata terkait strategi promosi Pariwisata Bali, Sabtu, 17 November 2018. Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati juga terlihat hadir dalam acara itu.

“Saya ikut hadir dalam acara itu. Agenda itu bertujuan mencari strategi agar kepariwisataan Bali harus dijaga kualitas dan keberlanjutannya dengan sebaik-baiknya,” tambah Ramia. (Way)