Tak Serius Ditangani Polisi, LBH Bali Adukan Kasus Kematian Bocah di Karangasem ke DPRD Bali

oleh
Komang Suryati (kiri), ibu korban didampingi LBH Bali bertemu dengan Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali, I Nyoman Parta - Jumat, 12 Agustus 2016 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Penanganan kasus kematian bocah bernama Kadek CD (1,3), asal Desa Sidemen Karangasem, Bali, sudah 1,5 tahun ini tak ada penanganan serius dari kepolisian. Kasus itu terjadi pada 20 Januari 2015, ketika korban diketahui menghilang dan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

LBH Bali yang mendampingi keluarga korban menduga kuat penyebab kematiannya tidak wajar. Karena ada luka robek di bibir korban dan luka goresan di tubuh korban. Selain itu, posisi korban dalam keadaan telungkup di sungai dengan posisi wajah seperti sengaja diganjal pelepah pohon kelapa.

“Hasil visum dari RS Sanglah menyebutkan di lambung korban ditemukan telor mata sapi, padahal ibu korban mengaku hanya memberi makan bakso sebelum anaknya hilang dan ditemukan tewas,” jelas Koordinator Kasus dari LBH Bali, Ni Wayan Sita Metri di DPRD Bali, Jumat, 12 Agustus 2016.

Penanganan kasus itu dilakukan oleh Polsek Sidemen, Karangasem, Bali. Namun dalam perkembangannya keluarga korban tidak pernah mendapatkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP). LBH Bali kemudian meminta kepada Polsek Sidemen dan diberikan dua SP2HP dengan tanggal berbeda.

“Dua minggu kemudian baru diberikan dua SP2HP tertanggal 16 September 2015 dan 23 Januari 2016 bersama bukti laporan ayah korban,” jelas Sita.

Dalam kasus itu LBH Bali meminta penanganan kasus kematian bocah KCD dipindah ke unit PPA Polda Bali. Pihaknya juga mendesak DPRD Bali ikut mencermati penegakan hukum terhadap kasus anak di Bali.

Sementara, Ketua Komisi IV DPRD Bali, I Nyoman Parta mengatakan, pihaknya akan melayangkan surat pemanggilan kepada Polsek Sidemen, Polres Karangasem maupun Polda Bali untuk memastikan penanganan kasus tersebut.

“Sudah ada bukti petunjuk yang bisa menuntun kepolisian yaitu adanya visum dan bukti forensik,” jelas Nyoman Parta.

Bukti visum, menurut Nyoman Parta, menunjukkan keterangan luka robek pada bagian bibir dan menjelaskan luka robek di bibir diakibatkan oleh kuku.

“Agar terang kami akan memanggil kepolisian dan pihak terkait 19 Agustus pagi,” kata Nyoman Parta.
 
 
Way

KORANJURI.com di Google News