Suka Usil, ini Cerita Pengelola Tentang Primata di Monkey Forest Ubud

    


Interaksi primata di Monkey Forest Ubud dengan pengunjung - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kalau anda sedang berada di Monkey Forest, Ubud, sebaiknya hati-hati karena monyet-monyet disana sering berbuat iseng kepada pengunjung. Primata itu juga sangat tertarik dengan bikini atau kain berwarna cerah. Salah-salah mereka akan menarik baju atau kain sampai terlepas. Dan, ini sebagian cerita unik dari hutan kera di desa turis itu.

Kera yang menghuni Sacred Monkey Forest Sanctuary atau Mandala Wisata Wanara Wana jumlahnya sekitar 600 ekor yang terbagi dalam empat kelompok besar. Masing-masing kelompok memiliki pemimpin untuk mempertahankan wilayahnya. Menurut Pande, salah satu staf jaga Wanara Wana, meski liar berada di hutan namun primata tersebut cukup akrab dengan manusia. Ya, itu dikarenakan sejak lebih dari tiga dekade terakhir Hutan Kera tersebut dijadikan kawasan wisata sehingga interaksi antar monyet dan manusia terjadi setiap hari.

“Asal kita tidak mengganggu mereka tidak menyerang manusia. Yang penting kasih makan saja, monyet-monyet itu akan bersahabat biarpun sampai naik ke pundak maupun kepala. Mereka tidak akan menggigit,” kata Pande.

Namun menurutnya lagi, sebenarnya kera-kera itu punya kebiasaan yang unik yang bisa mempermalukan orang. Kata Pande, pengunjung yang mengenakan longdress atau terusan panjang hingga ke mata kaki cukup menarik perhatian kera-kera disana. Apalagi kain yang memiliki corak warna cerah berbunga-bunga.

Kejadian seperti itu bukan hanya sekali atau dua kali terjadi pada pengunjung. Bahkan yang paling fatal, menurut Pande, seorang turis asal Taiwan bernama Charmian Chen, sempat dipermalukan oleh monyet-monyet nakal itu. Pasalnya, terusan longdress yang dikenakan turis cantik tersebut, bagian atasnya melorot ditarik oleh sekelompok monyet liar. Tak pelak, payudara gadis yang juga seorang mahasiswi tersebut sempat kelihatan.

“Pengelola taman wisata ini sudah memberikan peringatan yang ditulis di papan pengumuman baik diluar maupun di dalam wana wisata. Kami yang bertugas di dalam juga sering memberitahukan kepada pengunjung agar hati-hati. Tapi tampaknya, monyet-monyet itu tertarik sekali dengan corak kain yang dikenakan turis tersebut,” terang Pande.

Menurut Pande, perhatian monyet itu sebenarnya tertuju pada warna baju cerah yang dikenakan si turis. Kebiasaan monyet Ubud menyukai baju warna cerah sering terjadi. Pande mengatakan, warna-warna mencolok membuat kera berpikir itu adalah buah-buahan. Sehingga, tidak berlebihan menurutnya kalau kelompok primata itu sering dianggap usil dan nakal.

Kejadian seperti itu bukan hanya dialami oleh Chen saja. Yang namanya insiden sering dialami oleh tamu. Pande menceritakan, peristiwa seperti itu kebanyakan dialami oleh tamu perempuan. Mengingat, mereka lebih sering mengenakan baju dengan motif cerah dan panjang hingga ke kaki.

Ketika berjalan, lambaian kain yang terjadi mengusik pandangan monyet untuk menarik dan memainkan ujung kain yang tepat berada pada garis pandang si monyet. Hal yang sama, seperti dikatakan Pande, juga pernah dialami bule asal Aussie atau Australia. Yang terjadi waktu itu, si bule menunduk akan memberikan makan kepada monyet yang berada di kakinya. Tanpa sadar, dibelakangnya ada seekor monyet yang memperhatikan gerakan si bule. Begitu menunduk, monyet dibelakang langsung lompat masuk ke dalam rok dan mencengkeram paha si bule. Tak pelak, perempuan itu berteriak kaget.

“Untungnya tidak sampai luka. Tapi tamu itu sempat syok oleh rasa kagetnya,” ujar Pande.

Kejadian demi kejadian, membuat para petugas jaga Wanara Wana siaga. Masing-masing tempat disiagakan dua orang petugas untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Jika kedapatan monyet-monyet itu berbuat iseng dan nakal kepada pengunjung, petugas akan menghalaunya sampai memberikan peringatan fisik dengan ketapel.

“Cuma ketapelnya tidak ada pelurunya. Hanya kita tarik karetnya. Suara ketapel membuat kera-kera ketakutan dan lari menjauh. Jadi semua petugas disini membawa ketapel saat bertugas,” terang Pande.

Kejadian serupa bahkan juga kerap menimpa petugas jaga disana. Petugas yang selalu mengenakan kamen (sarung) juga tak luput dari perhatian monyet liar. Hanya saja, karena sudah mengenal karakter penghuni Wanara Wana, petugas sudah cukup sigap mengatasi kenakalan monyet-monyet itu.

Insiden yang menimpa petugas justru kerap terjadi saat mengajak bercanda anakan monyet yang memang lagi suka-sukanya bercanda. I Wayan Witana, salah seorang petugas jaga disana mengaku pernah digigit oleh monyet kecil.

“Anak monyet senang sekali kalau diajak bercanda. Kadang mereka memancing kita untuk bercanda, tapi setelah diladeni malah kita yang kena gigit. Kalau begitu, ya harus kita kasih peringatan misalnya dengan disentil telinga atau mulutnya biar mereka jera,” kata Wayan Witana.

Don’t Touch!

Gerbang masuk menuju Monkey Morest, Ubud - foto: Koranjuri.com

Gerbang masuk menuju Monkey Forest, Ubud – foto: Koranjuri.com

Ketersediaan makanan untuk 600 ekor monyet itu bisa dikatakan sudah sangat cukup. Setiap seminggu sekali pengelola mengisi 6 karung ketela rambat di tempat makanan. Itu masih ditambah lagi dengan jenis makanan lain seperti pisang, ketimun atau rambutan. Menurut Pande, monyet disana gampang bosan kalau dijejali makanan yang sama setiap minggunya. Jadi harus ada selingan biar lebih lahap menyantap makanan mereka.

“Kalau perut mereka kenyang mereka tidak akan menyerang manusia untuk mendapatkan makanan. Jadi selama ini kondisi monyet-monyet disini kebutuhan makananannya tercukupi. Kalau ada yang jahil sama manusia memang itu kelakuan mereka yang suka iseng, kalau dibilang watak monyet memang begitu,” kata Pande.

Tapi satu hal yang tidak dilakukan monyet Ubud adalah, kawanan mereka tidak pernah merebut benda-benda yang dibawa pengunjung seperti topi, kamera ataupun kacamata. Pande mengatakan, monyet Ubud tidak mengenal sistem barter barang (monkey bussiness) dan makanan seperti primata yang menghuni hutan lain yang ada di Bali.

Sama seperti alasan sebelumnya, pengelola mencukupi kebutuhan makanan monyet-monyet itu. Jadi kebiasaan menyandera barang milik pengunjung untuk dibarter makanan tidak pernah terjadi.

“Dan kami tidak membiasakan itu terjadi disini. Kalau ada yang berbuat ulah kami cepat mengejar dan memberikan peringatan. Secara kebiasaan monyet-monyet itu takut untuk mengulangi perbuatannya,” jelasnya demikian.

Yang pasti, Pande menghimbau, jika berniat mengunjungi Monkey Forest Ubud, bagi perempuan jangan menggunakan warna baju yang menyolok apalagi yang berbentuk kain panjang. Karena hal itu akan menarik perhatian monyet untuk berbuat iseng.

“Pakai baju kaus biasa saja dengan celana panjang atau pendek yang warnanya biasa. Terus kalau ada monyet yang meraih tas atau bergantung di tangan, pengunjung jangan mengusir dengan menyentuh tubuh monyet. Cara itu membuat monyet merasa terancam dan marah,” saran pria yang sudah 11 tahun menjadi staf Monkey Forest Ubud.

Tips lain lagi, pengunjung harus bersikap biasa kalau ada monyet naik dan duduk di bahu. Tetap berjalan seperti biasa pasti monyet akan turun sendiri. Satu lagi saran dari Pande, jangan pernah mendekati induk monyet yang tengah menggendong anak. Karena itu dianggap sebauh ancaman dan induk monyet akan menyerang pengunjung. (Way)

Hits: 0