Status Tanggap Darurat Covid-19, Kasatgas Bali Jelaskan Dampaknya

    


Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Bali menaikkan status siaga darurat menjadi tanggap darurat bencana wabah covid-19. Perubahan status itu berdasarkan Keputusan Gubernur Bali Nomor 270/04-G/HK/2020.

Merujuk pada UU no 24 tahun 2007, darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk jangka waktu tertentu atas dasar rekomendasi Badan yang diberi tugas untuk menanggulangi bencana.

Status keadaan darurat bencana terdiri dari, siaga darurat, tanggap darurat dan darurat ke pemulihan.

“Dampak itu tentu pada sisi pemerintah, bukan masyarakat. Apa yang dilakukan pemerintah pada situasi Siaga dan tanggap (darurat bencana), sedangkan masyarakat diminta selalu waspada,” jelas Kasatgas Penanggulangan Covid-19 Bali Dewa Made Indra, Selasa, 31 Maret 2020.

Dijelaskan, pada status siaga darurat pemerintah melakukan kesiapan terhadap potensi ancaman yang akan muncul. Dewa Indra mengatakan, pada saat itu mulai terlihat masyarakat, baik WNA dan WNI mengalami gangguan kesehatan dengan gejala mirip covid-19.

Kondisi itu kemudian disikapi oleh otoritas berwenang dengan melakukan sejumlah persiapan seperti menunjuk rumah sakit rujukan, menyiapkan ruang isolasi hingga melakukan disinfeksi.

“Sekarang, dalam perkembangannya, sudah terjadi angka positif naik, ada korban jiwa, jumlah PDP semakin banyak dan tersebar. Dulu hanya di RS Sanglah sekarang ada di beberapa rumah sakit,” kata Sekda Provinsi Bali ini.

Situasi yang menunjukkan kenaikan grafik itu, kata Dewa Indra, menunjukkan potensi resiko yang telah menjadi kenyataan.

Pada masa tanggap darurat bencana, tindakan yang dilakukan nyata untuk penyelamatan korban maupun memperkecil ruang gerak agar tidak ada korban berikutnya.

“Sekarang kita sudah melihat bahaya yang kasat, resiko itu sudah menjadi kenyataan dan tahapan yang sudah dilakukan itu merupakan teknis kebencanaan,” jelasnya.

Dalam UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, ada tiga jenis bencana yakni bencana alam, nonalam dan sosial. Pandemi global wabah Corona merupakan bencana nonalam sesuai pernyataan WHO. (Way)