Sopir Taksi Non Aplikasi Keluhkan Turunnya Omzet

    


Ketua Dewan Pimpinan Unit (DPU) Taksi Organda Bali, Wayan Pande Sudirta (baju hitam/tengah) memberikan keterangan pers - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Taksi konvensional yang selama ini beroperasi mengalami penurunan pendapatan hingga 65 persen. Waktu operasional mereka juga turun mencapai 30 persen. Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Pimpinan Unit (DPU) Taksi-Organda Bali, Pande Sudirta.

Menurut Pande, kondisi itu tercatat sejak pertengahan tahun lalu, ketika marak aplikasi taksi online dengan tarif lebih murah ketimbang taksi konvensional.

“Secara khusus, taksi online mengambil pangsa pasar taksi sebelumnya. Kami tidak alergi oleh online, tapi harus sesuai ketentuan yang ada,” jelas Pande Sudirta, Senin, 19 Februari 2018.

Persoalan yang dikeluhkan pengemudi taksi non aplikasi yakni pada harga yang lebih murah. Menurut Pande Sudirta, pengemudi taksi non aplikasi tak bisa bersaing lantaran harganya yang menurutnya memunculkan persaingan tidak sehat.

“Kalau tidak segera diatasi, dalam waktu 6 bulan saja, operator taksi di Bali akan gulung tikar,” tambah Sudirta.

Ia juga mengingatkan kepada operator taksi online agar tidak merekrut armadanya sendiri. “Sejatinya, Kamilah penyelenggara yang bekerjasama dengan aplikasi, kami yang berikan dia sopir, sejatinya begitu,” ungkapnya.

Peraturan Menteri Perhubungan No 108 Tahun 2017, menurut Sudirta, telah mengatur keberadaan perusahaan aplikasi transportasi darat. Salah satunya, pemberian layanan akses aplikasi kepada perusahaan angkutan umum yang belum memiliki ijin penyelenggaraan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek.

“Artinya harus ada ijin penyelenggaraan dulu baru beroperasi. Tapi faktanya tidak. Siapapun bisa menjadi pengemudi taksi online asal terdaftar di aplikasi,” ujarnya.

Saat ini jumlah taksi di Bali mencapai 2800 unit dari 5 operator. (Way)