SMK Kesehatan Purworejo Buka Kelas Unggulan Jepang

    


Penandatanganan MoU antara SMK Kesehatan Purworejo dengan LPK Kansha Indonesia Center, Selasa (27/01/2021) - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – SMK Kesehatan Purworejo, akan membuka kelas unggulan Jepang. Hal itu, diawali dengan penandatanganan perjanjian kerjasama (MoU), antara SMK Kesehatan Purworejo dengan LPK Kansha Indonesia Center.

Penandatanganan MoU dilakukan Selasa (26/01/2021), antara kedua belah pihak. Dari SMK Kesehatan Purworejo diwakili Kepala Sekolah Nuryadin, SSos, MPd dan dari LPK Kansha Indonesia Center diwakili Wagino selaku direktur.

Menurut Nuryadin, tujuan dari kerja sama tersebut, hal itu sebagai bagian dari komitmen sekolah untuk tetap menjaga kualitas dimana SMK Kesehatan Purworejo telah terakreditasi A unggul.

“Hal itu juga sebagai bagian dari promosi sekolah. Ini kaitannya dengan PPDB tahun ini. MoU ini akan kami pakai untuk presentasi di hadapan guru BP,” jelas Nuryadin.

Nuryadin berharap, MoU tersebut mendapatkan dukungan dari semua pihak, baik dari pemerintah setempat, bapak ibu guru, pihak yayasan, orangtua, juga para siswa.

Dijelaskan pula, bahwa salah satu keunggulan dari SMK Kesehatan Purworejo itu kualitas lulusannya tidak hanya standar nasional tapi internasional.

“Kerjasama ini juga bagian dari komitmen kita untuk menjawab globalisasi. Kita tahu, di era globalisasi skat-skat negara sudah nggak ada lagi. Sehingga anak-anak kita harus siap, jadi tidak hanya kerja di dalam, tapi luar negeri,” kata Nuryadin.

Kelas unggulan Jepang ini, menurut Nuryadin, akan dimulai untuk siswa kelas X yang masuk pada tahun pelajaran 2021. Untuk tahap awal, dibuka satu kelas unggulan, yang berisi 32 siswa. Mereka ini dari jurusan keperawatan dan farmasi.

Selama tiga tahun, dari kelas X hingga XII, peserta kelas unggulan Jepang digembleng dengan pemberian materi bahasa Jepang, budaya Jepang, dan karakter/sosiologi Jepang. Setelah selesai, mereka siap dikirim ke Jepang.

“Lapangan kerja di Jepang terbuka lebar, baik di industri, pramusiwi, maupun pramurupti. Target ke depannya, kita ada MoU dengan pemerintah sana,” ungkap Nuryadin.

Bagi siswa kelas XI, XII, atau yang sudah lulus, jika mereka berminat kerja di Jepang, mereka bisa mengikuti training program ke Jepang selama 3 bulan.

“Kalau soal biaya, hal itu bisa kita bicarakan. Target saya, yang ikut program ke Jepang ini pasca MoU, bisa 10-20 persen,” kata Nuryadin.

Kedepannya, kata Nuryadin, di SMK Kesehatan Purworejo akan memiliki rumah Jepang. Rumah ini, akan berfungsi sebagai laboratoriumnya bahasa Jepang. Dari bentuk dan perlengkapannya, semuanya bernuansa Jepang.

“Kita juga menerima peserta dari sekolah lain, namun pusat pendidikannya di sini,” pungkas Nuryadin. (Jon)