Siswa di Bali Olah Limbah Plastik Menjadi Berdayaguna

    


Siswi SMP Wisata Sanur membuat kerajinan berbahan baku botol plastik - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Sampah plastik menjadi persoalan serius di masa mendatang. Jika tidak mulai sekarang diatasi, persoalan sampah plastik di masa mendatang menjadi masalah pelik. Edukasi sejak dini perlu dilakukan terutama di lingkungan pendidikan.

Hal itu yang dilakukan oleh SMP Wisata Sanur dalam menanggulangi sampah plastik. Mereka diajarkan mengelola limbah organik dan anorganik dalam kegiatan ekstra kurikuler sekolah. Hebatnya, siswa disitu juga diajarkan bagaimana mengelola bank sampah yang menghasilkan profit income.

“Bukan hanya benefit saja, tapi juga ada profit income yang uangnya digunakan untuk kegiatan OSIS,” jelas Kepala sekolah setempat, I Gusi Made Raka, Sabtu, 16 Februari 2019.

Terutama untuk limbah plastik, para siswa mengolahnya menjadi bahan yang punya daya jual. Hal itu dibutuhkan kreatifitas. Mengingat, bahan-bahan plastik tebal seperti botol air mineral akan dimanfaatkan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan.

Kepala SMP Wisata Sanur Gusi Made Raka - foto: Istimewa

Kepala SMP Wisata Sanur Gusi Made Raka – foto: Istimewa

Sementara, residu atau sisa material plastik, kata Made Raka, akan dikumpulkan dan dijual ke pengepul. Hasil dari penjualan residu maupun kerajinan tangan, akan dikumpulkan.

Tangan-tangan terampil dari siswa, terlihat ketika mereka menunjukkan ketrampilannya membuat aneka kerajinan pada, Sabtu, 16 Februari 2019 di halaman sekolah.

“Hasilnya sementara akan kita tampung dan nanti ketika ada event Sanur Village Festival, kamu akan memamerkan kerajinan tangan anak-anak kami yang terbuat dari sampah plastik,” jelasnya.

Gusi Made Raka menambahkan, semangat yang diangkat dari pengolahan limbah sekolah itu adalah edukasi. Pihaknya ingin menularkan kesadaran itu kepada masyarakat luas melalui hasil karya limbah plastik dari para siswa.

“Dunia pendidikan adalah sarana edukasi, itu yang kami tekankan dengan apa yang kita lakukan di sekolah,” ujarnya.

Sementara, untuk sampah organik akan diolah menjadi kompos dan pupuk organik. Mereka juga bercocok tanam di sekolah dengan menggunakan pupuk yang diciptakan para siswa sendiri.

“Pembekalan sejak dini sangat dibutuhkan siswa nanti kedepannya. Tidak semua anak nasibnya sama, bagi yang kurang, nantinya pasti akan ingat ketrampilan dan pendidikan lifeskill yang mereka terima di sekolah,” jelas Gusi Made Raka. (Way)