Sindikat Pemalsuan Meterai Rugikan Negara Rp 6 Miliar, 8 Orang Jadi Tersangka

    


Polda Metro Jaya bersama Ditjen Pajak mengungkap sindikat pemalsuan meterai yang telah merugikan negara sebesar Rp 6 miliar - foto: Bob/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Polda Metro Jaya bersama Ditjen Pajak mengungkap sindikat pemalsuan meterai yang telah merugikan negara sebesar Rp 6 miliar. Polisi menangkap 8 orang dalam kasus tersebut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono memaparkan, pengungkapan kasus ini bermula dari adanya penurunan penerimaan pajak yang diterima oleh kantor pos.

Ditjen Pajak lalu melakukan penyelidikan dan menemukan indikasi adanya pemalsuan meterai.

“Jadi bermula dari informasi intelijen Ditjen Pajak bahwa penerimaan untuk pajak untuk negara itu yang dilakukan kantor pos ada penurunan. Tentunya dengan adanya penurunan, nanti kan ada penyelidikan oleh Ditjen Pajak, kenapa kok penerimaan nggak meningkat. Ternyata dari hasil analisa ditemukan adanya pemalsuan meterai,” kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Setelah itu, Ditjen Pajak berkoordinasi dengan tim dari Ditkrimsus Polda Metro Jaya untuk mengungkap kasus pemalsuan tersebut. Dari hasil penyelidikan, polisi kemudian menangkap delapan tersangka yang diduga menjual meterai palsu, yaitu D, H, IS, AS, AF, AT, PA, dan ZF.

Para pelaku ditangkap di tempat berbeda di Jakarta pada kurun Januari-Februari 2019. saat ini polisi masih memburu tiga orang lain yang diduga berperan sebagai pembuat meterai palsu tersebut.

“Tersangka ini dia mendapatkan barang dari DPO, masih kita cari,” kata Argo.

Dari hasil pemeriksaan, para tersangka menjual dua jenis meterai, yakni meterai 3.000 dan 6.000. Menurutnya, meterai tersebut dijual dengan harga yang cukup murah.

“Jadi ada dua meterai, 3.000 dan 6.000, untuk dijual dengan harga murah antara Rp 1.500 harganya. Ada yang dijual 1.500, ada interval harga (dari harga) yang ditetapkan oleh negara. Pelaku membeli satu rim meterai palsu seharga Rp 10 juta, kemudian dijual sebesar Rp 30 juta sehingga mendapatkan Rp 20 juta penjualan 1 rim,” paparnya.

Selain itu, Argo mengatakan para pelaku menjual meterai palsu secara online dan di toko-toko kelontong. Para tersangka telah menjual barang tersebut lebih dari satu tahun.

“Dia menjualnya secara online, ada juga yang dijual di toko kelontong. Tersangka sudah kita tangkap yang menjual, tetapi yang membuat masih dicari. Anggota masih bekerja di lapangan untuk mencari siapa yang membuat,” tuturnya.

Kasubdit Forensik dan Barang Bukti Ditjen Pajak Joni Isparianto menuturkan negara dirugikan sebesar Rp 6.065.163.750. Joni menjelaskan, dari penjualan meterai palsu tersebut. Para pelaku mendapatkan keuntungan yang besar.

“Berdasarkan aliran rekening penampung penjualan meterai, total kerugian negara atas penjualan meterai palsu tersebut mencapai Rp 6.065.163.750,” imbuhnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 13 Undang-Undang No 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai jo Pasal 253 KUHP jo Pasal 257 KUHP dan/atau Pasal 3, 4, dan 5 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang. (Bob)