KORANJURI.COM – Dakwah dalam kuburnya, mampu membukakan pintu hati, menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Itulah kelebihan dari dakwah kubur Gus Jamil. Jadi pendakwah kubur, merupakan pilihan hidupnya.
Gus Jamil lahir di Bengkulu. Dia merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara pasangan Munandir-Zaimah. Dari kecil, Gus Jamil ini sebenarnya punya cita-cita jadi tentara. Namun pengalaman hidupnya, membuat cita-cita Gus Jamil kecil berubah. Dia ingin mendalami agama Islam.
BACA:
» Dihadapan Ribuan Jamaah, Ustadz ini Berdakwah di Dalam Kubur
Selepas Sekolah Dasar, Gus Jamil merantau ke Jawa, mondok di beberapa pesantren, diantaranya di Ponpes Roudlotul Mutaalimin Al Qoliki di Tuban, Ponpes El Lu’baab, di Salaman, Magelang, dan terakhir di Banyuwangi, tepatnya di Ponpes Darul Manan, asuhan Kyai Mansyur Manan.

Gus Jamil hobi mengembara dan bersilahturahi. Sebelum mondok di Ponpes Darul Manan, dia sempat berkelana, menjalani laku ritual di Alas Purwo, hutan paling angker di pulau Jawa. Semuanya dia lakukan untuk menguji, sejauh mana tingkat ketauhidannya.
Sebulan lebih, Gus Jamil lelaku di Alas Purwo. Setelah mampu menakhlukkan Alas Purwo, disini pula Gus Jamil bertemu dengan salah satu santri Kyai Mansyur Manan, yang akhirnya bisa membawa Gus Jamil bertemu dengan Kyai Mansyur Manan.
Pertama bertemu Gus Jamil, Kyai Mansyur Manan melihat ada sesuatu yang tersembunyi pada dirinya. Kyai Mansyur Manan justru meminta Gus Jamil untuk tinggal di di pondoknya selama setahun, dan diberi kebebasan untuk tidak mengaji.
Justru dari sinilah, pada akhirnya Gus Jamil malah bisa menyerap ilmu dari sang guru, terutama tentang ilmu tauhid. Selama di pondok, tanda-tanda kelebihan Gus Jamil mulai tampak, dan bisa ‘dibaca’ sang guru.
Sang guru pernah berkata, suatu saat Gus Jamil akan menjadi panutan banyak orang (pendakwah besar). Setelah setahun mondok, akhirnya Gus Jamil pulang. Atas restu sang guru, Gus Jamil mulai berdakwah di kampung halamannya. Tahun 2005, Gus Jamil menikahi Siti Ni’matul Aliyah. Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai 3 putra.
Awalnya, Gus Jamil menjadi pendakwah biasa, dari mimbar ke mimbar, dari panggung ke panggung. Gus Jamil banyak terjun berdakwah ke daerah-daerah yang hitam, seperti komplek lokalisasi dan daerah hitam lainnya.
Namun hal itu tak membuat batin Gus Jamil puas. Serasa ada yang kurang pada dirinya. Gus Jamil lantas melakukan pengembaraan lagi. Saat melakukan perjalanan ziarah wali songo dengan berjalan kaki, dari ujung barat sampai ujung timur pulau Jawa, sebuah peristiwa menyadarkan Gus Jamil.

Gus Jamil teringat sabda Rosululloh pada salah satu sahabat, bahwa banyak tertawa akan membuat hati menjadi keras. Sementara ingat akan kematian, akan menjadikan hati menjadi lunak.
Dari sinilah, Gus Jamil memutuskan untuk berdakwah di dalam kubur. Sang guru merestuinya, dan berpesan agar Gus Jamil jangan takabur/sombong jika sudah terkenal. Dan mulai tahun 2006 Gus Jamil mulai berdakwah dalam kubur, hingga sekarang.
Yang menjadi dasar kuat Gus Jamil nekat melakukan dakwah kubur ini, karena adanya sebuah keyakinan, kalau rasa panas, gelap, pengap, tidak bisa mendatangkan kematian, kecuali Alloh menghendaki. Dan semua itu sudah tertuang jelas di Lauh Mahfudz, kapan manusia akan mati.
Video-video Gus Jamil saat berdakwah dalam kubur, banyak beredar di You Tube. Bagi yang penasaran, klik saja disini www.youtube.com. Melalui Majelis Dzikrul Maut, Gus Jamil melakukan syiarnya.
Meski sudah terkenal sebagai Dai, Gus Jamil tetaplah sosok yang sederhana. Dia tidak bergelimang harta. Sebagian besar hasil dari dakwahnya banyak disumbangkan untuk kepentingan sosial. Bahkan, untuk tempat tinggalnya, Gus Jamil masih ngontrak. Banyak yang simpati terhadap kehidupan Gus Jamil. Salah satunya, Datuk Rozmey, dermawan asal Kedah, Malaysia yang memberikan sebuah mobil Fortuner pada Gus Jamil untuk beraktifitas.
Desa Giri Kencana, Kecamatan Ketahun
Bengkulu Utara
Gus Jamil. Hp. 082180509040
Pin BB: 7CE1B5D2
Jon