Setelah 51 Tahun, Koster Hidupkan Tradisi Halalbihalal di Jaya Sabha

    


Peringatan 118 tahun kelahiran Bung Karno yang dirangkai dengan kegiatan Halalbihalal Pemprov Bali yang mengundang seluruh elemen lintas agama di Bali, Kamis, 6 Juni 2019 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Gubernur Bali Wayan Koster menggelar peringatan 118 tahun kelahiran Bapak Bangsa, Ir. Soekarno pada 6 Juni 2019. Peringatan itu sekaligus dirangkai dengan acara Halalbihalal dengan seluruh umat beragama di Bali bertempat di kediaman jabatan Gubernur Bali Jayasabha, Denpasar.

Pembina Majelis Ulama Indonesia Bali, Haji Roichan memberikan penegasan, Halalbihalal yang jadi acara resmi pemerintah Provinsi Bali kali ini, menjadi yang pertama sejak 51 tahun lalu.

“Ini sangat luar biasa dan menjadi yang pertama dalam 51 tahun. Kedua, kegiatan ini jadi perpaduan yang ada kaitannya dengan Bung Karno,” jelas H. Roichan, Kamis, 6 Juni 2019.

Menurut Roichan, Halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang erat berhubungan dengan Bung Karno. Ia mengisahkan, pada waktu itu, Bung Karno kerap mengadakan pertemuan dengan para kepala negara saat momen lebaran, istilah yang digunakan adalah silaturahmi.

“Tapi menurut ulama senior waktu itu, Bung Karno menyatakan istilahnya masih kurang khas Indonesia, lalu muncul Halalbihalal yang artinya saling memaafkan, saling menghalalkan,” jelasnya.

Gubernur Bali Wayan Koster mengaku terkejut jika Halalbihalal yang diadakannya adalah yang pertama. Namun menurutnya, kegiatan itu menjadi momentum untuk membumikan Pancasila seperti yang telah diajarkan oleh Soekarno.

“Kaget juga tadi, kalau ini jadi yang pertama setelah 51 tahun. Tapi ini cara konkrit membangun kerukunan umat beragama di Provinsi Bali. Nanti di Hari Raya umat beragama lain, juga akan kami selenggarakan, Natal, Waisak, Imlek, supaya Bali jadi tempat membumikan Pancasila,” jelas Wayan Koster.

Selain digunakan sebagai ajang ramah tamah, Koster juga mengajak mengenang Soekarno bukan saja sebagai proklamator tapi juga sosok penggali nilai-nilai Pancasila.

Bulan Juni menjadi bulan Bung Karno, yang secara historis, telah tercatat pada 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, 6 Juni hari kelahiran Bung Karno dan 21 Juni Bung Karno wafat.

Dan pada bulan Juni 2019 ini, juga bertepatan dengan Idulfitri. Sehingga, Hari Raya umat muslim dan hari bersejarah melebur menjadi satu kesatuan makna. Esensi Pancasila, menurut Koster, menghormati keberagaman sebagai refleksi dari Idulfitri itu sendiri. (Way)