September Dibuka, Gubernur Koster Tak Larang Orang Asing Masuk Bali

    


Gubernur Bali Wayan Koster saat menghadiri pelantikan pengurus PWI Provinsi Bali dan IKWI periode 2019-2024 di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Jumat, 24 Juli 2020 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, kolaborasi antara Pemprov dan Pemkab, berjalan baik. Penanganan Covid-19 mampu meningkatkan angka kesembuhan signifikan.

Meski demikian, dampak ekonominya juga harus dituntaskan agar tidak terhenti seperti sekarang. Untuk mengangkat kembali ekonomi Bali dari sektor pariwisata, Gubernur mengambil regulasi membuka kembali pariwisata dalam tiga tahap.

“Tahap ketiganya September mendatang dengan membuka akses wisatawan mancanegara. Kalau stuck begini akan repot, tidak boleh dibiarkan terlalu lama,” jelas Gubernur, Jumat, 24 Juli 2020.

Gubernur memaparkan kondisi pariwisata di Bali dan penanganan covid-19, saat menghadiri pelantikan pengurus PWI dan IKWI Provinsi Bali periode 2019-2024 di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Jumat, 24 Juli 2020.

Hanya saja, Koster memberikan penekanan, saat akses masuk Bali sudah dibuka, belum tentu negara-negara di dunia berkunjung ke Bali. Koster mengatakan, saat ini masih berlaku Peraturan Menkumham Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk Wilayah Negara Republik Indonesia.

“Wisatawan asing akan masuk ke Bali kalau peraturan Kemenkumham dicabut atau minimal direvisi. Jadi saya tidak pernah menahan orang asing masuk ke Bali,” jelasnya.

Dampak Covid-19 terhadap perekonomian Bali menyebabkan akomodasi perhotelan dan usaha wisata, tutup. Kunjungan wisatawan ke Bali nihil.

“Dampaknya sangat terasa, secara ekonomi banyak yang dirumahkan. Ini sangat terasa,” kata Gubernur Wayan Koster, 24 Juli 2020.

Meski demikian, menurut Koster, Bali telah teruji dengan situasi sulit yang membuat pariwisata terpuruk. Bali Berhasil melewati masa-masa sulit pariwisata seperti kejadian Bom Bali I dan II, isu erupsi Gunung Agung dan masa pandemi seperti sekarang.

“Pariwisata sensitif, cepat terganggu dan cepat pulih. Sekarang paling keras dampaknya, sekarang (waktunya) lama dan cukup kuat pengaruhnya sehingga ekonomi Bali cukup berat,” kata Gubernur.

“Pada triwulan I sudah minus 1,14 persen, triwulan kedua akan lebih tinggi lagi dan ini yang mulai terasa,” tambah Gubernur. (Way)