Sepi Kunjungan Bali Seperti ‘Kota Hantu’, Kadispar: Hoaks, Market Eropa Aman

    


Kepala Dinas Pariwisata Bali Putu Astawa - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kepala Dinas Pariwisata Bali membantah isu yang menyebutkan kunjungan wisatawan ke Bali sepi pasca tragedi virus corona novel. Sepinya kunjungan wisatawan mancanegara sampai menyebutkan Bali seperti ‘Kota Hantu’.

“Hoaks. Penurunan wisatawan memang terjadi, tapi itu khusus market Tiongkok saja, sekitar 25-27%. Market lain masih on schedule, belum ada yang cancel,” kata Kadispar Bali Putu Astawa, Senin, 10 Februari 2020.

Kalender kunjungan wisatawan di Bali mengenal istilah high seasons dan low seasons. Di awal tahun, kata Putu Astawa, Bali berada pada fase penurunan wisatawan mancanegara. Namun, kondisi itu akan naik saat puncak musim liburan (high seasons).

Wisatawan negeri tirai bambu menempati posisi terbesar kedua setelah Australia sepanjang 2019. Dari 6,3 juta seluruh wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali, Tiongkok berkontribusi sebanyak 1,185 juta orang per tahun 2019.

Pengurangan hanya terjadi di angka 1 juta orang karena kebijakan penghentian penerbangan dari Bali menuju China dan sebaliknya. Namun menurut Astawa, wisatawan asal negara lain masih aman.

“Fakta saat ini, Bali negatif suspect virus Corona,” jelas Putu Astawa.

Pihaknya tengah membidik wisatawan selain Tiongkok untuk datang ke Bali. Skema yang akan dilakukan antara lain, membuat paket wisata murah dengan memberi diskon seperti penerbangan, hotel, travel agent, hingga atraksi wisata.

Pemerintah Bali juga berupaya melakukan koordinasi dengan agen perjalanan luar negeri dan asosiasi pariwisata asing untuk mengalihkan penerbangannya ke Bali.

Waktu tinggal atau length of stay wisatawan asal Eropa, Australia, dan Amerika lebih lama, rata-rata berdurasi 2-4 minggu. Sedangkan wisatawan Tiongkok waktu tinggalnya di Bali rata-rata 4-5 hari.

“Karena kasus ini kita akan gaet wisatawan Eropa, Australia atau Amerika untuk datang ke Bali,” ujarnya.

Divert Penerbangan ke Bali

Sekitar 30 juta wisatawan dunia, baik dari Indonesia dan negara lain, melakukan perjalanan wisata ke Tiongkok setiap tahunnya. Isu kesehatan global yang melanda China, serta merta mengakibatkan banyak negara membatalkan penerbangan ke negeri panda.

“Jadi kita akan kerja sama dengan airlines dan travel agent untuk mengalihkan wisatawan itu datang ke Bali,” kata Ketua Bali Hotel Association (BHA) Ricky Putra.

“Bali tidak bermaksud bersenang-senang atas musibah yang menimpa Tiongkok,” sergahnya.

Ricky menambahkan, Indonesia memiliki kekuatan 3.000 orang yang berlibur ke China setiap tahun. Pasar domestik itu menurutnya cukup relevan untuk mengatasi krisis kunjungan turis Tiongkok ke Bali. (Way/*)