Seperti Apa Terapi Nebulizer Omron OTG Covid-19 di Bali? Ini Penjelasannya

    


Direktur RS Bali Mandara dr. Bagus Darmayasa - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Terapi nebulizer omron digunakan di Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) dalam menangani pasien covid-19. Nebulizer merupakan alat untuk mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi uap yang dihirup.

Direktur RSBM dr. Bagus Darmayasa menjelaskan, ramuan obat untuk terapi nebulizer menggunakan bahan herbal berbahan dasar Arak Bali, lemon dan minyak kayu putih. Ramuan tradisional itu kemudian disebut dengan usadha Bali atau penyembuhan dengan metode tradisional.

Astungkara hasilnya bagus. Setelah swab kedua, hasilnya negatif. Jadi memang berkhasiat arak ini yang dilakukan dengan nebulizer untuk melegakan tenggorokan. Jadi itu arak yang dipanaskan dan uapnya dihirup,” jelas Bagus Darmayasa, Jumat (24/7/2020).

Metode penyembuhan tradisional itu, kata Bagus Darmayasa, digunakan sebagai upaya lain dalam menyembuhkan pasien covid-19. Namun, pengobatan utamanya tetap menggunakan metode medis.

“Jadi kita lakukan dengan pengunaan medis, dan terapi ini khusus bagi pasien yang dalam keadaan tidak terlalu berat. Bahkan kami pakai handuk,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Bali menyatakan, pihaknya menambahkan metode pengobatan orang tanpa gejala (OTG) covid-19, dengan terapi uap. Ramuan yang digunakan, dikatakan, telah melewati sejumlah riset dengan proses destilasi khusus. Tercapai nebulizer itu hanya diterapkan untuk OTG dengan covid-19.

“Kita bekerjasama dengan ahli dari Universitas Udayana, Ramuan ini nanti akan kita patenkan,” jelas Gubernur Bali Wayan Koster, saat menghadiri pelantikan pengurus PWI di Gedung Wiswa Sabha Utama, Jumat (24/7/2020).

Sementara, pasca ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan penanganan pasien Covid-19 sejak April lalu, RSBM telah menangani total 460 pasien terinfeksi Sars-cov-2.

Sat ini RSBM memiliki kapasitas 40 tempat tidur. Jumlah pasien aktif dalam perawatan sampai Jumat (24/7/2020) sebanyak 30 pasien.

Astungkara, ada kencederungan untuk sembuh. Di mana mereka dengan rata-rata usia 40 sampai dengan 50 tahun. Mereka berasal dari lokal Bali,” kata dr Bagus. (Way)