Senin, Warga Desa Adat Kerobokan Gelar Prosesi Melasti di Pantai Petitenget

    


Bendesa Desa Adat Kerobokan, Anak Agung Putu Sutarja - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Upacara Melasti di Desa Adat Kerobokan akan dimulai pada Senin, 4 Maret 2019. Upacara Melasti dipusatkan di Pantai Petitenget dengan diikuti warga dari tiga desa yakni, Desa Adat Kerobokan, Desa Adat Padangluwih dan Desa Pakraman Padangsambian.

Ribuan orang dipastikan akan mengikuti prosesi penyucian itu. Meski menjadi kegiatan rutin setiap tahun, namun pengaturan tetap dilakukan khususnya agar iring-iringan warga tidak sepenuhnya mengganggu pengguna jalan.

Bendesa Desa Adat Kerobokan, Anak Agung Putu Sutarja menjelaskan, waktu pelaksanaan upacara Melasti mulai pukul 11.00 Wita sampai pukul 13.00 Wita.

“Untuk pengamanan melibatkan pecalang masing-masing Desa dibantu Polres Badung dan Polresta Denpasar. Kekuatannya sekitar 200 personel,” jelas AA Putu Sutarja, Sabtu, 2 Maret 2019.

Terutama di malam pengerupukan atau sehari menjelang Catur Brata Penyepian berlangsung, Desa Adat Kerobokan mengeluarkan aturan kepada warga Banjar untuk membersihkan lingkungan dari sampah bekas arak-arakan ogoh-ogoh.

Sutarja menambahkan, ritual ogoh-ogoh diharapkan selesai pukul 22.00 Wita. Sehingga masih ada cukup waktu untuk membersihkan sampah.

“Kalau tidak, pukul 04.00-05.00 subuh, warga harus membersihkan sampah itu, atau sebelum mulai Nyepi di pukul 06.00,” ujarnya demikian.

Dalam perayaan Nyepi itu, pihaknya menghimbau bagi seluruh umat Hindu, agar menjadi contoh bagi umat lain yang ada di Bali dalam menjalankan Catur Brata Penyepian.

Catur Brata Penyepian sendiri meliputi, Amati Geni, artinya tidak boleh menyalakan api atau tidak diijinkan menyalakan lampu.

Amati Karya, tidak boleh beraktifitas atau bekerja. Amati Lelungan, artinya tidak boleh bepergian keluar rumah dan Amati Lelanguan artinya tidak boleh bersenang-senang. (Way/*)