Sengketa Tanah Milik Mendiang Ida Pedanda Rai Gunung

    

Ahli Waris Laporkan ke Polisi Dugaan Penyerobotan Lahan

Ilustrasi

Ilustrasi


KORANJURI.COM – Sengketa tanah di Desa Selat, Kecamatan Klungkung, yang diwariskan oleh mendiang Ida Pedanda Rai Gunung dan istrinya, Ida Ayu Putu Wati berujung pada laporan polisi.

Ahli waris, Ida Bagus Nyoman Darma Dewa Diputra (54) resmi mengadukan silang sengketa itu ke Polres Klungkung pada 22 Januari 2017.

“Sebelumnya pada 2013 lalu, kami sudah membuat laporan tindak pidana penyerobotan tanah,” kata Dewa Diputra.

Ia menjelaskan, tanah seluas 3.150 m2 atas nama Ida Ayu Putu Wati, telah berdiri bangunan rumah tinggal permanen. Berdirinya bangunan diatas tanah itu, dinilai Darma Dewa Diputra menjadi materi laporan ke polisi.

Selain itu, pihaknya juga mengadukan adanya pengrusakan pohon atau tanaman yang menurutnya, bermanfaat bagi ahli waris sebagai penghasilan untuk biaya hidup.

“Sejak kecil pohon dan tanaman itu digunakan untuk membiayai hidup keluarga,” jelas Dewa Diputra.

Sebelumnya, tanah tersebut didaftarkan di kantor pertanahan Kabupaten Klungkung pada tahun 1989 dengan DI 301 No. 99/1989. Lalu terbit sertifikat hak milik No. 636/Desa Selat atas nama Ida Ayu Putu Wati dengan luas 4.100 m2.

Dewa Diputra mengatakan, sertifikat itu sesuai gambar situasi tanggal 4 Agustus 1989 No. 455 Tahun 1989 yang terletak di Subak Gembalan No. 25, Pipil No. 94, Persil No. 27 kelas II.

Kemudian, pada 4 Oktober 1993, hak milik No. 636/Desa Selat milik Ayu Putu Wati dihibahkan kepada cucunya bernama Ir. Ida Bagus Gede Yadnya sesuai Akta Hibah No.03/K/1993 seluas 41 are (4.100 m2) dan diterbitkan sertifikat hak milik No. 903 dengan DI 208 No. 55/1994.

Namun, setelah dilaksanakan pengukuran oleh kantor Pertanahan Kabupaten Klungkung, luas tanahnya sesuai dengan batas-batas Akta Jual Beli Padol No. 135/1959 dengan SPPT terebut diatas, ternyata terdapat kelebihan luas 3.150 m2.

“Kami ajukan permohonan pensertifikatan tanah sisa tersebut, tapi terhalang oleh pihak ketiga yang mengakui tanah tersebut sudah bersertifikat/dipronakan pada tahun 2012,” jelasnya.

Pihaknya mengaku sudah melakukan mediasi kepada pihak-pihak yang mendirikan bangunan.

“Hanya saja, tidak ada tanggapan dari mereka yang menempati tanah yang masih jadi hak milik orangtua kami,” terangnya demikian.
 
 
Way