Sejumlah Wilayah Alami Kekeringan, PDAM Purworejo Droping Air Bersih

    


Tangki air bersih milik PDAM Purworejo, saat melakukan droping air ke sejumlah wilayah di Purworejo yang mengalami kesulitan air bersih karena kekeringan - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Memasuki musim kemarau, Sejumlah wilayah di Kabupaten Purworejo mulai mengalami Kekeringan. Dari data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Purworejo, ada sekitar 68 desa di 11 kecamatan di Purworejo yang mulai kesulitan air bersih.

Ke 68 desa itu, 10 desa berada di wilayah Kecamatan Bener, Loano (9 desa), Bagelen (9 desa), Purworejo (7 desa), Kemiri (6 desa), Pituruh (6 desa), Bayan (6 desa), Kaligesing (4 desa), Grabag (4 desa), Banyuurip (4 desa), serta Gebang (3 desa).

“Dari PDAM Purworejo sudah melakukan droping air ke beberapa wilayah yang mengalami kekeringan tersebut, setelah berkoordinasi dengan BPBD,” jelas Hermawan Wahyu Utomo, ST, Direktur PDAM Purworejo, Selasa (25/6).

Setiap hari, 5 tangki air PDAM Purworejo berkapasitas 4 ribu liter melakukan droping ke sejumlah wilayah yang sudah ditentukan secara bergantian. Sejumlah desa yang di droping air bersih ini, antara lain, Rowodadi (Grabag), Somorejo, Hargorojo, Tlogokotes (Bagelen), Sidomulyo (Purworejo), serta beberapa desa lainnya.

Menurut Hermawan, droping air ini ditujukan pada masyarakat diluar pelanggan PDAM. Hingga saat ini, meski sudah memasuki musim kemarau, untuk suplai air PDAM ke pelanggan masih aman.

Bagi desa yang mengalami kesulitan air bersih, namun tidak ada dana (anggaran), bisa melakukan koordinasi dengan BPBD untuk dilakukan droping air. Namun bagi desa yang memiliki dana, bisa langsung minta droping air ke PDAM, dengan membelinya.

“Harga satu tangki air bersih ini sekitar Rp 152 ribu, untuk wilayah dalam kota. Di luar kota Purworejo, sekitar Rp 282 ribu/ tangki, atau menyesuaikan jauh dekatnya jarak,” ungkap Hermawan.

Memasuki musim kemarau, khusus untuk para pelanggan PDAM Purworejo yang kini jumlahnya mencapai 23 ribu sambungan rumah, kata Hermawan, dari PDAM sudah mengantisipasinya, yakni dengan mengupgrade alat-alat produksi.

Pada Bendung Boro, dilakukan proses intake. Dalam hal ini, pengambilan air melalui pompa sedot dari sungai, dilewatkan melalui pemrosesan terlebih dahulu (disaring), sehingga suplai air menjadi lancar, karena sudah bersih dari kotoran/sampah.

“Pada Bendung Boro 2, saat ini sedang proses untuk peningkatan debit air, dari 22 liter/detik, menjadi 45 liter/detik,” terang Hermawan.

Pada sumur Condongsari, pompa penyedot diperbesar. Pada sumur ini, sudah dilakukan redrilling (pengeboran kembali dengan memindahkan titik sumur), sehingga mampu memperbesar debit air, dari yang semula 1,5 liter/ detik menjadi 3,5 liter/detik. Dengan memperbesar pompa penyedot air, maka debit air akan meningkat menjadi 7,5 liter/detik.

“Dan jika dibutuhkan, kita sudah siapkan 3 armada tangki yang siap suplai air bersih ke pelanggan, dengan tiga titik pengambilan air bersih, di Kutoarjo, Tuksongo, dan Boro,” pungkas Hermawan. (Jon)