Sedekah Lawu MDH Pringgondani

    


Reyog untuk acara sedekah bumi masyarakat MDH Pringgondani - foto : Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Mbah Saman,sesepuh Masyarakat Desa Hutan Pringgondani (MDH) bersama warga menggelar upacara tradisi sedakah bumi bertempat di lapangan Desa Blumbang, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Senin (24/9/2018).

Sedekah bumi di lakukan sebagai ungkapan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya kepada warga desa melalui hasil bumi yang berlimpah ruah. Acara sedakah bumi dihadiri masyarakat adat dari pelbagai kalangan diantaranya, pemerhati budaya, pecinta alam, budayawan, seniman, pemangku adat dan segenap Muspida di Kabupaten Karanganyar.

“Hadir dalam acara tersebut perwakilan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah mewakili Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang juga memperoleh undangan dari panitia untuk menghadiri acara sedekah bumi,” jelas Isa Anshori, selaku ketua pelaksana acara sedekah bumi

Isa anshari (kiri), Mbah Saman (kanan) - foto: koranjuri.com

Isa anshari (kiri), Mbah Saman (kanan) – foto: koranjuri.com

Ditambahkan oleh Isa, syukuran dimaksudkan untuk membangun dan mengembangkan kembali aktivitas budaya di kawasan landscape situs gunung Lawu. Sedekah bumi dipakai sebagai ajang silaturahmi para pecinta alam, pemerhati dan penyelamat lingkungan yang peduli terhadap kelestarian gunung Lawu.

Baca Juga : Pria Ini Relakan Kedua Jarinya Hilang Karena Melestarikan Hutan Lawu

Dimaksudkan, dalam acara sedekah bumi tersebut, bisa menjadi tonggak awal upaya penyelamatan situs gunung Lawu sekaligus menjadi acara tahunan gelar budaya dan pelestarian alam gunung Lawu lewat budaya kearifan lokal.

Isa berharap acara sedekah bumi bisa menyatukan masyarakat hutan tiga belas gunung di Jawa dan Madura untuk bersama sama menjaga kelestarianya.

Gunung Lawu diakui masyarakat adat sebagai sumber kearifan budaya di Nusantara, menilik dari berbagai peninggalan sejarah yang ada di gunung lawu. Sejak dari awal peradaban para dewa hingga berakhirnya kejayaan Majapahit dan Mataram Islam di tanah Jawa, semua ada di Gunung Lawu.

Dari mulai candi Mendut, Sukuh, Cetha, Kethek, Pamoksan Brawijaya, peninggalan para wali dan situs-situs sejarah lainya semua ada di gunung Lawu.

Oleh sebab itu, diletakannya Gunung Lawu sebagai landscape situs cagar budaya penting, agar kelestarian alam dan budaya yang tersimpan di dalamnya utuh menjadi warisan dunia. Selama ini Lawu cepat sekali mengalami pergeseran dari hutan adat menjadi hutan konsumtif ekonomi. Maraknya kebakaran hutan gunung lawu setiap tahun bukti nyata, jika banyak orang dan oknum kehutanan bermain di gunung Lawu.

Hal tersebut disampaikan oleh mbah Saman, rimbawan penyelamat lawu yang sampai saat ini belum pernah memperoleh perhatian apalagi penghargaan dari Pemerintah pusat.

Dipahami betul oleh mbah Saman selaku rimbawan, jika kebakaran yang terjadi di gunung lawu disebabkan ulah manusia yang merambah hutan membuka lahan pertanian dan hunian. Tak terkecuali oknum pegawai dari dinas kehutanan ada juga yang bermain merambah hutan di gunung lawu.
Tetapi anehnya justru ia yang menyelamatkan hutan penanam 200 juta pohon di sepanjang lereng gunung Lawu di fitnah sebagai perambahnya.

“Hal mustahil yang di lakukan oleh mbah Saman,” Papar Isa menambahkan keterangan mbah Saman saat ditemui di acara tradisi sedakah bumi.

Ia seakan sengaja dibenturkan dengan warga, diadu domba oleh oknum dari dinas kehutanan agar menyingkir dari hutan Lawu. Karena Mbah Saman memahami betul seluk beluk seluruh hutan di gunung Lawu. Sebab musabab terjadinya kebakaran dan perambahan hutan yang terjadi selama ini di Gunung lawu.

Sejak masih muda, setiap hari, mbah Saman sudah keluar masuk hutan menanam pohon. Hutan seakan rumah kedua baginya, kecintaanya terhadap hutan melebihi kecintaanya kepada keluarganya sendiri.

Di usianya yang semakin senja sudah ratusan juta pohon ia tanam di gunung Lawu. Tetapi ia sama sekali belum pernah memperoleh perhatian dari Pemerintah,

“Apalagi penghargaan upakarti sebagai penyelamat lingkungan,” pungkas Isa Anshori dalam keteranganya. (Jk)