Sarat Kritik Sosial di Album Ke-4 Band Marapu

    


Grup Band beraliran reggae, Marapu - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Marapu, band beraliran reggae merilis album Indie keempat. Album berjudul ‘Won’t be Fooled’ ini berisi 13 lagu dengan kemasan cover album tak seperti album reggae pada umumnya.

Manager Marapu, Arno Mariani mengatakan, cover album yang mencitrakan sebuah mata menatap tajam ke arah barisan pria berseragam menjadi sebuah simbol kemarahan atas isu-isu sosial yang terjadi belakangan ini.

Dibalik seragam para sosok yang mirip petugas itu juga tertulis corruption, human trafficking maupun racism.

“Genre reggae jadi sarana kami untuk menyuarakan pesan yang mengandung isu-isu sosial di musik kami. Jadi cover album keempat ini lebih sarat dengan pesan-pesan tertentu,” jelas Arno Mariani di Denpasar, Jumat, 6 April 2018.

Album indie keempat ini berisi 13 lagu dengan 5 bahasa di dalamnya. Yanto Pekabanda, vokalis Marapu menambahkan, beberapa lagu daerah ada yang diaransemen ulang menjadi genre reggae seperti ‘Putri Cening Ayu’ yang berasal dari Bali, termasuk lagu daerah Papua dan Sumba, NTT.

Nama Marapu disempal dari aliran kepercayaan masyarakat Sumba. Marapu menjadi sebuah tradisi yang masih dilakukan di Sumba hingga saat ini.

“Awal berdiri tahun 1999 di Yogyakarta, kemudian hijrah ke Bali tahun 2013,” jelas Yanto.

Album keempat ini bakal diproduksi 1.000 keping untuk dilepas ke pasaran. Namun mengikuti perubahan pola belanja masyarakat, manager Marapu, Arno Mariani menjelaskan, lagu yang diproduksi itu lebih banyak dijual secara online melalui digital store. (Way)