Sajak Bunda Koster Hipnotis Massa di Sela Deklarasi KBS-Ace

    


Ni Putu Putri Suastini atau Bunda Koster membacakan sajak di atas panggung deklarasi KBS-Ace di Desa Adat Buduk, Mengwi, Senin, 19 Maret 2018 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Ni Putu Putri Suastini atau Bunda Koster punya cara sendiri melakukan pendekatan dengan masyarakat. Bahu membahu dengan sang suami yang merupakan cagub Bali periode 2018-2023, perempuan kelahiran Padangsambian, Denpasar ini, menyirap ribuan warga Desa Adat Buduk, Mengwi dengan sajak yang dibawakannya, Senin, 19 Maret 2018.

Sajak berjudul ‘Sajak Untuk Drupadi (dan para perempuan yang dihinakan)’, terasa sarat unsur magis dengan intonasi lantang yang diucapkan seorang Putri Suastini. Panggung deklarasi dukungan Koster-Ace terasa bergetar.

“Kita jangan pernah berhenti berkesenian. Saya sampai sekarang juga masih aktif, tapi tidak seperti dulu. Sekarang saya berkesenian melalui puisi. Melalui persembahan puisi, selain untuk menghibur, juga melalui puisi kita ingin mendinginkan suasana ketika suhu politik mulai memanas,” ujarnya demikian.

Meski dalam berkesenian, Putri Suastini tak seaktif dulu lagi, namun ia tetap menyempatkan diri mendukung aktifitas suami, I Wayan Koster, membangkitkan semangat kepada para seniman muda untuk tetap berkesenian.

Seni dan berkesenian, menurut Putri Suastini menjadi dua hal yang tak bisa dipisahkan. Seni merupakan sarana hiburan sekaligus membawa pesan-pesan tertentu yang ingin disampaikan kepada publik. Melalui ‘Sajak untuk Drupadi’ yang ia bawakan, Bunda Koster ingin menyampaikan pesan bahwa perempuan memiliki kesetaraan dengan kaum Adam. Mereka berhak atas ruang yang selama ini didominasi kaum pria.

Kemudian, perempuan asal Padangsambian Kaja, Kota Denpasar ini menuturkan, meski ia belum mampu berbuat hal yang luar biasa bagi masyarakat, namun bukan berarti ia akan berhenti untuk terus berbuat sesuatu.

Selain itu, seniman multi talenta yang telah menggondol berbagai penghargaan tingkat nasional ini, mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib para seniman Bali yang seringkali kurang beruntung di hari senjanya.

“Bukan cuma karyanya yang kita nikmati dan hargai, namun juga harus memberi penghargaan bagaimana agar kehidupan mereka bisa sejahtera,” ujar Bunda Koster.

Sajak Untuk Drupadi