Ruwatan ala Tionghoa Jelang Imlek

    


Ritual ciswak di klenteng Thong Hwie Kiong, Purworejo - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Masyarakat dan simpatisan Klenteng Thong Hwie Kiong, Purworejo, melakukan ritual ciswakbersama, Senin (1/2). Ritual ciswak dilaksanan di klenteng yang beralamat di Jl. Singodranan 15, belakang pasar Baledono itu.

Ritual ciswak bersama dipimpin oleh Jiaw She (calon pendeta) Tjan Giok Lan. Menurut Tjan Giok Lan, dalam tradisi dan budaya Cina, menjelang Imlek atau tahun baru Cina, ada beberapa shio yang dianggap jiong atau tidak selaras dengan shio tahun baru tersebut.

Seperti tahun 2016 ini, yang dalam penanggalan Cina bershio Monyet Api. Shio-shio yang dianggap jiong, antara lain shio kera, kuda, naga, macan, tikus, dan anjing.

“Karena dianggap jiong, maka pemilik shio-shio tersebut harus diciswak, atau dirituali tolak balak, supaya selama setahun kedepan diberi keselamatan dan limpahan rejeki,” jelas Tjan Giok Lan.

Tahun ini, ada 90 peserta ciswak. Mereka-mereka ini, tak hanya warga Purworejo saja, tapi banyak juga yang berasal dari luar kota. Untuk ritual ciswak, aneka sesajen dihidangkan untuk para dewa, antara lain, telor, jeruk apel, kacang hijau, beras, kedelai, dan daging.

Sebagian sesajen dikembalikan ke peserta, yakni biji-bijian tadi, yang sebagian disebar di depan rumah, sebagian lagi dimasak. Biji disebar memiliki makna buang sial. Sementara dimasak, bertujuan agar selalu diberi keselamatan.

Usai ritual ciswak, malam harinya ada ritual sembahyang Ji Si Shan Ang, atau Co Kun naik, yakni, mengantar dewa dapur naik ke langit, menghadap Tuhan. Dan 3 hari setelah Imlek, Co Kun akan turun ke bumi.

“Saat naik ke langit itulah, Co Kun akan melapor pada Tuhan tentang perbuatan manusia selama setahun, juga melapiekan nama-nama yang ikut ritual ciswak agar diberkati,” pungkas Tjan Giok Lan.
 
 
Jon