Rusak Sejak 2018, Hutan Mangrove di Kawasan Pelabuhan Benoa Disulap jadi Arboretum

oleh
Penanaman kembali bibit mangrove memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni turut melibatkan siswa sekolah - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Kondisi hutan mangrove di areal konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai di Jalan Raya Pelabuhan Benoa secara bertahap direvitalisasi.

500 bibit mangrove ditanam kembali di areal Mangrove Arboretum Park pada, Jumat, 31 Mei 2024. Sebelumnya, areal hutan bakau yang berdekatan dengan kawasan pengembangan pelabuhan milik Pelindo Regional III, rusak berat.

Rossy dari Sahabat Mangrove Ranger Indonesia mengatakan, kawasan yang rusak mencapai 12 hektar. Kerusakan itu terjadi sejak tahun 2018 dan mulai direvitalisasi setahun kemudian pada 2019.

“Areal yang rusak ini kemudian dibuat arboretum atau museum mangrove, dan beberapa mangrove sudah ditanam kembali,” jelas Rossy di Denpasar, Jumat, 31 Mei 2024.

Upaya rehabilitasi itu membuahkan hasil. Dari 12 hektar lahan yang rusak, menurut Rossy, kini masih tersisa 3 hingga 4 hektar yang perlu penanganan lebih lanjut.

Ia bersama Sahabat Mangrove Ranger Indonesia memastikan bibit mangrove yang ditanam sanggup bertahan hidup dan tumbuh menjadi pohon bakau.

“Bagi kami ini bukan sekedar eforia tapi bagaimana tanaman ini benar-benar hidup dengan cara menyulam, kami perkirakan 80 persen yang ditanam kembali sanggup bertahan hidup,” jelasnya.

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Air Sungai (BPDAS) Unda Anyar Tri Adi menambahkan, mangrove yang ditanam di kawasan Tahura Pelabuhan Benoa berjenis rhizopora styloza.

“Bibit rhizopora styloza masuk dalam true mangrove atau mangrove sejati di Bali. Jenis ini bentuknya panjang ,” kata Tri Adi.

Sebagai pusat persemaian mangrove, BPDAS mampu menyemai hingga 6 juta batang per tahun dan menjadi showcase terbesar di Indonesia.

Bibit mangrove itu juga untuk memenuhi kebutuhan di luar wilayah provinsi Bali seperti Mawa Timur maupun Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada dua metode penyemaian yang dilakukan yakni dari propagul (benih) dan biji. Selanjutnya, bibit dibesarkan selama 4 bulan.

“Masa tumbuh mangrove rata-rata 4 tahun, di Tahura ada rehabilitasi sejak 1992 itu baru berusia sekitar 30 tahun,” jelas Tri Adi. (Way)

KORANJURI.com di Google News