Ritual Omed-omedan Tak Boleh Ditiadakan Usai Nyepi

    


Tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja Sesetan Denpasar - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Setiap tahun tepatnya pada hari Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi, warga Banjar Kaja Sesetan selalu menggelar tradisi Omed-omedan. Ritual unik ini dipercaya dapat mengusir berbagai bencana.

Tradisi Omed-omedan ini merupakan ritual rutin yang harus diadakan di Banjar setempat. Warga setempat meyakini, jika tidak menggelar ritual Omed-omedan desa mereka akan dilanda malapetaka.

“Kami pernah meniadakan tapi sebagian besar warga kami dirundung bencana, dari situ tersirat pesan kalau kami harus tetap mengadakan Omed-omedan ini,” kata Sunarya.

Omed-omedan dalam bahasa Bali berarti tarik menarik, namun pada perkembangannya istilah tarik menarik itu menjadi ciuman yang dilakukan antara pria dan wanita yang masih lajang.

“Tapi bukan berarti ini pornografi. Masyarakat bali yang masih normal tidak mungkin melakukan ciuman di depan umum, ini yang perlu dipahami,” tambah Ngurah Agung Kusuma Putra, pewaris Puri Oka.

Dikisahkan, pada masa Kerajaan Puri Oka, raja mengalami sakit keras dan tidak bisa disembuhkan dan itu bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Pada saat yang sama, pukul 4 sore, warga berkerumun di depan Puri (Keraton, red) membuat gaduh.

Raja yang sedang sakit keras, dengan kemarahan meluap keluar Puri dan menghardik sekumpulan warga yang mengadakan tarik menarik atau Omed-omedan agar pergi meninggalkan tempat itu. Saat raja meluapkan kemarahan itu, mendadak sakitnya hilang dan ia merasakan sembuh total.

“Raja keluar lagi dan memerintahkan warga kembali melanjutkan kegiatan Omed-omedan. Raja juga bertitah setiap tahun pada hari, jam yang sama tradisi itu tetap diadakan,” jelas Wayan Sunarya.

Sunarya menambahkan, dulunya, Omed-omedan jatuh pada saat Hari Raya Nyepi. Kemudian, pada masa penjajahan Belanda, tradisi itu sempat ditiadakan. Alhasil, yang terjadi di luar perkiraan.

“Ada 2 babi besar muncul dan berkelahi di depan Puri. Warga tidak bisa melerai meski kedua ekor babi itu sudah berdarah-darah. Anehnya, setelah itu keduanya (Babi) raib dengan sendirinya tanpa meninggalkan jejak,” terang Sunarya.

Sejak saat itu, warga merubah hari pelaksanaan Omed-omedan dari awalnya bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, dirubah sehari setelah Nyepi atau tepat pada Hari Ngembak Geni.

Tontonan itu menjadi suguhan menarik bagi hampir semua warga di Bali setelah 24 jam penuh tidak melakukan aktifitas apapun saat Nyepi.
 
 
way