Ribuan Pelajar SMK di Purworejo Gelar Sholat Minta Hujan

    


KORANJURI.COM – Jum’at (4/10) pagi, rencananya akan digelar Gerakan Sholat Istisqo (sholat minta hujan), bagi pelajar SMK se Kabupaten Purworejo. Dalam kegiatan ini, direncanakan dihadiri oleh 3.500 pelajar, yang berasal dari 13 SMK negeri dan swasta, yang berada di timur kali Jali.

Namun, kegiatan yang rencananya akan dipusatkan di alun-alun Purworejo, tepatnya di depan Pendopo Kabupaten Purworejo, jalan Setiabudi ini gagal. Ternyata, kegiatan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari ini, tidak mendapatkan ‘ijin’ dari pihak kepolisian, dengan berbagai pertimbangan.

“Gerakan sholat Istisqo yang direncanakan dipusatkan di alun-alun memang gagal. Tapi kegiatan ini tetap kita laksanakan, di sekolah masing-masing,” ujar Gandung Ngadina, SPd, Ketua MKKS SMK se Kabupaten Purworejo, Jum’at (4/10).

Dijelaskan oleh Gandung, bahwa gerakan sholat Istisqo tersebut, merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan fenomena alam yang saat ini terjadi, yakni musim kemarau panjang. Keadaan ini, akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan para petani.

Ketua MKKS SMK Kabupaten Purworejo, Gandung Ngadina, SPd. - foto:Sujono/Koranjuri.com

Ketua MKKS SMK Kabupaten Purworejo, Gandung Ngadina, SPd. – foto:Sujono/Koranjuri.com

“Karena itulah, kita lakukan gerakan sholat Istisqo ini, untuk minta hujan. Mengapa? Karena banyak siswa yang orang tuanya petani. Jika pertaniannya bermasalah, tentu akan berdampak langsung pada kehidupan petani itu sendiri, yang secara tidak langsung juga berdampak pada sekolah,” ungkap Gandung

Namun yang paling penting, kata Gandung, itu semua merupakan bagian dari pendidikan karakter di sekolah, dimana guru tidak hanya mengajar, yang outputnya otak. Tapi juga mendidik, yang outputnya, siswa menjadi baik, berbudi luhur, berjiwa lemah lembut, dan sifat-sifat positif lainnya.

“Itu wujud dari implementasi pendidikan karakter yang bertujuan untuk peningkatan SDM, sesuai program Presiden Jokowi. Cerdas tapi berkarakter,” terang Gandung.

Dalam gerakan sholat Istisqo yang dilakukan di masing-masing sekolah ini, ujar Gandung, pesertanya memakai baju koko putih. Hal itu sebagai sikap kebersamaan, dengan meninggalkan identitas sekolah.

Gandung berharap, dengan sholat Istisqo tersebut, bisa untuk mendukung situasi yang tetap adem ayem, pendidikan karakter bisa lebih ditingkatkan sebagai pendukung terwujudnya peningkatan SDM.

“Juga untuk meletakkan sikap disiplin, dan lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa,” kata Gandung.

Dari pantauan di lapangan, sejumlah sekolah SMK negeri dan swasta yang berada di timur kali Jali, melaksanakan sholat Istisqo ini. Beberapa sekolah yang melaksanakan sholat ini, SMK Patriot, SMK N 4, SMK TKM, SMK PN, SMK PN 2, SMK N 3, SMK Kartini, SMK Kesehatan Purworejo, dan SMK YPT.

“Di sekolah kami, sholat Istisqo ini diikuti oleh seluruh siswa yang jumlahnya mencapai 600 orang, juga para guru dan karyawan,” jelas Toto Wibawa, SPd, Kepala SMK YPT Purworejo, Jum’at (4/10).

Sholat Istisqo di SMK YPT dipimpin oleh Kyai Masduki dari Pangenrejo. Dalam tausiyahnya, Kyai Masduki menyampaikan tentang tujuan dari sholat ini, juga menyampaikan tentang pentingnya berbuat baik kepada siapa saja, meski beda agama atau keyakinan.

“Dengan kegiatan sholat minta hujan ini, bisa memberikan dampak positif bagi siswa SMK, yang selama ini selalu dipandang negatif,” pungkas Toto, yang didampingi Waka Kesiswaan, Eri Ponco, S.Pd.T. (Jon)