Refleksi Perjalanan 68 Tahun YKP dan 34 Tahun STISPOL Wira Bhakti

    


Ketua Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Yudana (duduk-kanan) - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Secara serempak, Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Provinsi Bali merayakan HUT ke-68 YKP, HUT ke-34 STISPOL Wira Bhakti Denpasar dan HUT ke-10 SMK Wira Bhakti Denpasar pada Kamis, 3 Oktober 2019.

Kegiatan itu menurut Ketua YKP I Gusti Ngurah Gede Yudana menjadi refleksi perjuangan putra-putri pejuang di Bali dalam mengisi kemerdekaan melalui pendidikan. Menurutnya, YKP didirikan untuk memfasilitasi pendidikan dari kalangan ekonomi menengah kebawah.

“Kondisi saat itu, ditangkap oleh para pendiri yayasan untuk membuat unit sekolah di bawah yayasan Yayasan Kebaktian Proklamasi. Sampai sekarang yayasan ini terus berkembang dan memiliki unit-unit baru seperti SMK dan STISPOL,” jelas Gusti Ngurah Gede Yudana, Kamis, 3 Oktober 2019.

Yudana juga mengungkapkan, perkembangan itu bukan saja dari sisi unit pendidikan, namun juga terus mempercantik bangunan dan gedung yang ada. Bahkan menurutnya, pihaknya saat ini tengah berproses untuk transformasi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISPOL) Wira Bhakti menjadi institut.

“Doakan saja, semoga lekas terwujud menjadi institut, kami sudah mengarah kesana,” ujarnya demikian.

Sementara, Ketua STISPOL Wira Bhakti I Nengah Merta, S.Sos., M.Si menjelaskan, perjalanan 34 tahun STISPOL banyak memberikan pengalaman dalam pengelolaan kampus yang berlokasi di wilayah Kreneng, Denpasar itu. Menurutnya, dinamika yang ada memberikan pelajaran sangat berharga. Sehingga, peningkatan mutu pendidikan terus terjaga.

“Ini menjadi beban sekaligus cambuk bagi STISPOL Wira Bhakti untuk mempertahankan kualitas. Pemenuhan kebutuhan akademisi dengan strata doktoral untuk dosen juga menjadi tugas yang harus kami pikirkan kedepan,” ujar Nengah Merta.

Ditambahkan, kompetisi pendidikan tinggi saat ini cukup ketat. Pilihan yang ada, dikatakan Nengah Merta adalah meningkatkan kualitas dari segala bidang yang dikelola oleh manajemen lembaga pendidikan. Sekalipun dua jurusan yang ada saat ini telah terakreditasu B, namun menurutnya, belumlah cukup untuk bersaing dalam konteks peningkatan kualitas pendidikan.

Tren jurusan yang tengah diminati masyarakat, juga menjadi perhatian khusus dalam pengembangan sekolah tinggi itu. Dua jurusan yang saat ini ada yakni, Administrasi Publik dan Administrasi Bisnis.

“Dalam perkembangan saat ini, belum cukup. Jadi kita perlu ada membuka prodi-prodi baru yang memang dibutuhkan seiring minat masyarakat,” jelas Merta.

Dalam pandangannya, kebutuhan riil dunia pendidikan tinggi saat ini berbasis pada teknologi informasi. Lebih jelasnya, dikatakan Nengah Merta, prodi baru yang dibutuhkan saat ini adalah pariwisata digital dan informatika. (Way)