Reaksi Koster Kasus Bule Duduki Tempat Sakral di Bali

    


Calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster turut prihatin mendengar kabar adanya turis asal Eropa yang naik ke Pelinggih di Pura Gelap Besakih. Tak hanya itu, turis yang belum diketahui identitasnya itu juga duduk atas Padmasana Pura Gelap. Sontak hal ini memantik reaksi banyak pihak, tak terkecuali Wayan Koster.

Menurut Koster, apa yang dilakukan oleh wisatawan itu sudah di luar batas kewajaran.

“Ini sudah keterlaluan,” sesal Koster di hadapan ribuan warga di Desa Pakraman Kedungu, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Kamis 19 April 2018.

Koster tak ingin hal ini kembali terulang. Ke depan, dalam rangka menjalankan konsep yang diusungnya yakni ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, Koster tak ingin ada lagi tamu asing yang diizinkan masuk ke tempat persembahyangan.

“Dia cukup melihat dari jarak jauh saja. Ini harus diatur agar juga khusyuk mereka yang sembahyang,” ujarnya.

Koster lantas memiliki gagasan agar turis yang ingin mengetahui detail sejarah Pura Besakih tanpa menyalahi aturan dan tata krama yang diusung umat Hindu Bali. Salah satunya adalah dengan membuatkan gedung di depan Pura Besakih yang berisi sejarah Pura Besakih secara lengkap.

“Nanti kita buatkan gedungnya. Jadi lengkap nanti, siapa yang membuat Pura Besakih, sejarahnya bagaimana, apa saja Pelinggihnya, sastranya bagaimana dan lainnya itu nanti ditayangkan melalui video,” ujar Koster.

Hal itu dilakukan untuk menjaga kesakralan Pura Besakih. Koster berkomitmen untuk menjaga penuh kesakralan Pura Besakih dan Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem.

“Pura Besakih dan Gunung Agung-nya harus dijaga kesakralannya. Tidak bisa diperkosa seperti itu,” papar dia.

Menurutnya, hal ini yang membuat Bali kehilangan taksunya.

“Melalui konsep ini (Nangun Sat Kerthi Loka Bali) saya ingin mengembalikan kearifan lokal, tradisi berdasarkan sastra Bali. Saya ingin Bali menjadi pusat peradaban dunia. Agar Bali tetap suci, agung dan dengan begitu menjadi magnet bagi orang untuk datang ke Bali. Dari sana perekonomian Bali akan dibangun,” ujarnya. (*)