Ratusan Warga Desa Wadas Tolak Quary, Sejumlah Tuntutan Diajukan

    


Demo ratusan warga Desa Wadas, Bener, di depan Kantor Bupati Purworejo, Kamis (10/1). Mereka menolak, Desa Wadas dijadikan wilayah Quary dalam proyek nasional Bendungan Bener - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Ratusan warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempa Dewa), melakukan aksi demo di depan kantor bupati Purworejo, Kamis (10/1/2019).

Dalam kawalan petugas kepolisian, demo diawali dengan berjalan kaki mengelilingi alun-alun Purworejo, dan berakhir di depan kantor bupati. Selama beraksi, mereka membawa spanduk dan poster bertulisan penolakan ekploitasi tanah Wadas.

Penolakan itu diantaranya, Tolak Tambang di Bumi Wadas, tolak Segala Bentuk Perusakan Bumi Wadas, Selamatkan Bumi Wadas, dan Rakyat Anti Penggusuran.

“Tolak-tolak quary sekarang juga, tolak-tolak, tolak quary, tolak quary sekarang juga,” seru para pendemo.

Para pendemo minta bertemu Bupati Purworejo Agus Bastian. Namun sayang, bupati tidak ada di tempat. Melalui perwakilan, pendemo ditemui Sekda Said Romadhon dan perwakilan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Terlihat, para pendemo membawa banyak spanduk, berisi tuntutan mereka, sambil berorasi. Aksi warga Wadas ini, mendapat pendampingan dari LBH Jogja. Meski sempat terjadi aksi saling dorong dengan petugas, namun massa tidak sampai anarkis. Untuk meredam suasana, para pendemo melakukan mujahadah.

“Kami sudah berkirim surat dua minggu yang lalu, tapi Bupati malah pergi ke Jakarta, kami akan tunggu Bupati sampai pulang,” teriak Fajar, salah satu orator aksi.

Menurut Ageng Galuh dari LBH Jogja, aksi penolakan warga Wadas, terkait proyek nasional Bendungan Bener, yang akan berdiri di wilayah dua kabupaten, Wonosobo (wilayah Kecamatan Kepil) dan Purworejo (wilayah kecamatan Bener dan Gebang)

Untuk kepentingan pembangunan Bendungan Bener yang nilai investasinya mencapai Rp 4 triliun dari APBN, Desa Wadas ditetapkan sebagai wilayah Quary atau wilayah yang akan diambil tanahnya untuk membangun bendungan.

“Dalam proses penyusunan AMDAL, Gempa Dewa tidak pernah dilibatkan. Sebagian besar warga Wadas hidup dari pertanian. Meski ada ganti rugi, warga tetap menolak, karena akan berdampak kemiskinan dalam masa mendatang,” terang Ageng.

Gempa Dewa, kata Ageng, menuntut dan mendesak Bupati Purworejo untuk berpihak kepada perjuangan masyarakat Desa Wadas guna mempertahankan lingkungan hidup, menuntut Bupati Purworejo untuk menolak Quary Desa Wadas, menolak segala bentuk eksploitasi alam di Desa Wadas, serta menolak segala bentuk intimidasi terhadap warga yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup Desa Wadas.

Disebutkan, hasil dari pertemuan antara perwakilan warga dengan perwakilan BBWS, bahwa mereka hanya berkenan menyampaikan surat yang diajukan oleh masyarakat untuk disampaikan ke pimpinan. Janji BBWS kepada masyarakat Wadas, akan memberikan kabar 3 hari kedepan. (Jon)