Puri Sebagai Ruang Tumbuhnya Demokrasi, Banyak Lahirkan Politisi Daerah

    


Anak Agung Ngurah Gde Widiada - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Keberadaan puri di Kota Denpasar saat ini telah menjadi tempat dan ruang publik bagi tumbuhnya demokrasi, edukasi dan politik. Banyak politisi di daerah yang lahir dari kalangan puri.

Hal itu ditegaskan Penglingsir Puri Peguyangan Denpasar, Anak Agung Ngurah Gede Widiada. Dikatakan, dalam sejarah politik, puri telah berperan besar dalam tumbuhnya demokrasi saat itu terutama saat perjuangan masyarakat Denpasar melawan penjajahan yang tercatat sebagai Serangan Kota Denpasar.

Di Kabupaten Badung pun, peran Puri juga besar dalam Puputan Badung. Di konteks kekinian, puri telah menjadi ruang tumbuhnya demokrasi dan politik.

“Tidak lagi semata-mata sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan,” ujar Anak Agung Ngurah Gede Widiada, Jumat, 17 November 2017.

Widiada yang juga Wakil Ketua DPW Partai Nasdem Bali ini menyebutkan, Kota Denpasar memiliki sekitar 10 puri, tiga diantaranya tergolong Puri Besar (Puri Pemecutan, Puri Satria dan Puri Kesiman). Masing-masing puri tersebut memiliki peran tersendiri dalam perkembangan zamannya.

Saat perjuangan, Puri bisa berperan sebagai tempat berkumpul para pejuang, menentukan strategi perang, menjadi tangsi tempat berlindung dan sebagainya.

“Di situlah politik berkembang meski masih sebatas untuk satu tujuan yakni kemenangan melawan penjajahan,” papar Widiada.

Di zaman sekarang, Puri telah ‘melahirkan’ banyak politisi yang duduk di legislatif bahkan eksekutif, baik di tingkat kabupaten/kota maupun Provinsi. Menurut Widiada,hal itu menjadi bukti bahwa Puri turut berperan dalam perkembangan politik di suatu daerah.

Sebagai potensi objek wisata dalam kota (city tour), puri juga berkontribusi dalam melestarikan budaya setempat. Widiada mencontohkan, tokoh seniman besar yakni Anak Agung Ngurah Gede Pemecutan yang menjadikan Puri sebagai ikon pusat seni melukis dengan sidik jari, AA Ngurah Bagus, tokoh antropologi besar yang mampu mengembangkan pendidikan kajian budaya di Universitas Udayana dan membangun perpustakaan di Purinya.

“Manifestasi Puri sebagai objek wisata budaya bisa dilihat dari peninggalan sejarah dan rekam jejak tokoh puri yang memiliki keteladanan dan prestasi atas peran sertanya dalam sejarah perjuangan dan kehidupan di Kota Denpasar.

“Pemerintah mesti memberikan perhatian maksimal terhadap keberadaan puri,” ujarnya demikian.

Sebelumnya, Kasubbag Pengumpulan Informasi dan Publikasi Humas dan Protokol Pemkot Denpasar I Wayan Hendaryana mengatakan, puri menjadi salah satu pendukung program city tour Kota Denpasar, namun pemerintah belum bisa berbuat banyak terkait faktor finansial. (Ari)