Punya Potensi Besar, Market India Tidak Digarap Maksimal

    


Foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Badung IGN Rai Suryawijaya menyatakan, potensi pasar India yang sedemikian besar perlu digarap secara maksimal.

Menurutnya, market India merupakan pasar dengan outbond terbesar kedua setelah Tiongkok. Turis India menghabiskan minimal 10 hari per tahun untuk liburan, maupun mengadakan MICE di luar negeri saat mengambil cuti tahunan.

Kemampuan lenght of stay pasar India di Bali 3-4 malam dan tahun 2018 meningkat menjadi rata-rata 6 malam.

“Ini merupakan pertumbuhan yang sangat sehat mengingat ada peningkatan lama tinggal di Bali. Artinya destinasi Bali yang lebih dari 90 persen menganut agama Hindu sangat pas untuk masyarakat India,” jelas Rai Suryawijaya saat pertemuan dengan Ambassador India Mr. Diraj Kumar di Kuta, Senin (10/6/2019).

“Penerbangan langsung dari Denpasar ke beberapa kota di India sampai saat ini belum ada. Kalau tidak ada connectivity yang bagus maka Sales Mission yang dilakukan menjadi tidak maksimal,” tambahnya.

Maskapai Garuda Indonesia, menurut Rai, sempat menggarap direct flight Denpasar-Mumbai, namun harus tutup lantaran penumpangnya sedikit. Dirinya berharap, maskapai tanah air memulai lagi menggarap pasar India.

Kadisparda Badung Made Badra mengatakan, pihaknya siap menerima lonjakan pasar India. Kabupaten terkaya kedua di Indonesia itu, menurut Badra, sudah siap dengan infrastruktur jalan dan perbaikan layanan di destinasi yang ada.

“Kami Mendukung agar pasar India ini dikelola dengan baik,” ujar Made Badra.

Kabupaten Badung tahun 2019 mentargetkan kunjungan wisatawan sebesar 450 ribu wisman.

Sementara, Wakil Ketua BPPD Badung Herdy Sayoga menyatakan, masyarakat India punya keberanian bepergian ke luar dibanding negara lain yang rentan dengan situasi informasi di negara tujuan.

Wisatawan India yang bepergian keluar negeri, dikatakan Herdy Sayoga, kebanyakan baru pertama kali melakukan travelling keluar negeri. Jumlahnya mencapai 75 persen termasuk yang datang ke Bali.

“Sehingga sangat logis kalau pasar ini lebih menjanjikan untuk dikembangkan, dengan catatan, kita harus mengolah secara benar dan strategis” jelasnya. (*)