Puluhan Pembina PMR Madya Ikuti Pelatihan Tanggap Bencana di SMPN 4 Purworejo

    


Kegiatan simulasi tanggap bencana, yang diikuti para peserta Pelatihan Siaga Bencana Berbasis Sekolah Bagi Pembina Palang Merah Remaja (PMR) Madya se-Kabupaten Purworejo, Kamis (26/9) di SMP N 4 Purworejo - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kamis (26/9) siang, tiba-tiba saja para siswa dan guru SMP N 4 Purworejo berhamburan keluar, sambil berteriak-teriak histeris, seiring suara tanda bahaya yang terus berbunyi.

Mereka panik, saling menyelamatkan diri, dan berlindung di tempat aman, lalu berkumpul di titik aman. Ternyata, bahaya itu sebagai bentuk peringatan adanya gempa tektonik berkekuatan sekitar 6 SR. Setelah dinyatakan aman, tanda bahaya pun berhenti.

Eko Partono, selaku Kepala Sekolah, tampak sibuk memberikan perintah pada anak buahnya, untuk mengecek dan mendata jumlah siswa. Ketika ada yang tidak kelihatan, dibantu dengan petugas PMR, mereka melakukan pencarian.

Ternyata, beberapa anak mengalami luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Dengan sigap, para petugas PMR langsung melakukan tindakan pertolongan. Siswa yang terluka parah, langsung dibawa ke RS untuk mendapatkan perawatan.

Peristiwa menegangkan tersebut, ternyata bukanlah peristiwa yang sebenarnya. Itu hanyalah simulasi penanganan bencana gempa, dan bagian dari kegiatan Pelatihan Siaga Bencana Berbasis Sekolah Bagi Pembina Palang Merah Remaja (PMR) Madya se-Kabupaten Purworejo yang difasilitasi oleh PMI Propinsi Jateng dan PMI Kabupaten Purworejo, yang dilaksanakan di SMP N 4 Purworejo.

“Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari, dari Selasa (24/9) hingga Kamis (26/9). Kegiatan simulasi tersebut, merupakan bagian dari pelatihan,” ungkap Drs Eko Partono, MPd, Kepala SMP N 4 Purworejo, Kamis (26/9), di sela-sela kegiatan.

Dengan mengikuti pelatihan tersebut, diharapkan, kata Eko Partono, para PMR madya (SMP), punya kemampuan mandiri dalam menghadapi bencana, tak hanya di sekolah, tapi di tempat mereka tinggal, sehingga tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.

Dijelaskan pula oleh Nunun Dwi Yuniati, MPd, Pembina PMR SMP N 4 Purworejo, selaku Seksi Kegiatan, didampingi Hastuti, SPd, Pembina PMR SMP N 5 Purworejo, Bendahara Kegiatan, jumlah peserta secara keseluruhan mencapai 69 orang, merupakan para Pembina PMR dari 41 sekolah SMP yang ada di Kabupaten Purworejo.

“Selama pelatihan, disampaikan materi yang ada kaitannya dengan kesiapsiagaan bencana, teori, praktek, dan simulasi,” kata Nunun.

Setelah mengikuti pelatihan, ujar Nunun, para peserta harus menyerahkan bukti fisik di sekolah masing-masing, tentang SOP, rentang bencana, SUPT, jalur evakuasi, yang harus dirinci dengan menampilkan adanya rujukan tindak lanjut kapasitas. Setelah itu, barulah mereka bisa mendapatkan sertifikat.

Tujuan dari pelatihan tanggap bencana ini, menurut Nunun, supaya para peserta selalu waspada terhadap bencana, karena bencana bisa datang secara tiba-tiba dan tidak bisa direncanakan. Sehingga perlu disiasati untuk mengurangi jatuhnya korban.

“Banyaknya korban bencana, bukan karena bencana itu sendiri. Tapi karena ketidaktahuan dan kesiapsiagaan masyarakat sekitar dalam menghadapinya,” ujar Hastuti menimpali.

Acara pelatihan yang awalnya dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo, Sukmo  Widi Harwanto itu, penutupannya dilakukan oleh Wabup Purworejo, Yuli Hastuti, selaku Ketua PMI Kabupaten Purworejo. (Jon)