Prison Music Festival 2018, Kreativitas Bermusik dari Balik Dinding Penjara

    


Penampilan salah satu grup band dalam event Prison Music Festival 2018 di dalam Lapas Kelas IIA Kerobokan - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Terkurung di dalam penjara tidak berarti terkurung juga kreatifitasnya. Nilai itu dibuktikan dengan 13 grup band Lapas dan Rutan di Bali yang tampil dalam Bali Prison Music Festival 2018 di Lapas Kelas IIA Kerobokan, Sabtu (25/11/2018).

Performa mereka sangat apik, rapi dan sempurna untuk sebuah band yang lahir dari dalam kerangkeng besi. Para warga binaan itu juga kreatif mengemas lagu yang mereka ciptakan sendiri.

Kalapas Kelas IIA Kerobokan, Tony Nainggolan mengatakan, memberikan kesempatan para warga binaan untuk berkarya, jadi terobosan Lapas terbesar di Bali itu dalam membina warganya.

Hasil dari pembinaan itu juga sudah mulai nampak. Grup band Antrabez yang juga lahir dari Lapas Kerobokan, kini sudah mulai bermain secara profesional.

“Antrabez sekarang sudah dapat bayaran profesional kalau diundang main, dan pembinaan kita disini terus berlanjut dengan mengadakan festival band antar Rutan dan Lapas seperti sekarang,” jelas Tony Nainggolan, Sabtu (25/11/2018).

13 grup band itu yakni, Injeksi dari Lapas Kelas IIA Bangli, Vibr dari Lapas Kelas IIA Bangli, Jerbest dari Lapas Kelas IIB Tabanan, The Tower dari Lapas Kelas IIA Kerobokan, solois Reno Pratama dari Lapas Kelas IIA Kerobokan, d’ Laker Band dari Lapas Kelas IIB Karangasem, Napa’s dari Lapas Kelas IIB Singaraja, MoreFame dari Lapas Perempuan Kelas IIA Denpasar, Musita Rubli dari Rutan Kelas IIB Bangli, The Prodeo dari Rutan Kelas IIB Negara, Semata Band dari Rutan kelas IIB Klungkung, Ajeg Band dari Rutan Kelas IIB Gianyar dan Plur band dari LPKA Kelas II Karangasem.

Jerinx SID yang dari awal selalu terlibat dalam pembinaan band di Lapas melihat, hasil dari kerja keras banyak pihak telah sukses mencetak grup band profesional. Dalam pilot project yang sudah dilakukan, grup band Antrabez menjadi batu loncatan baru untuk menghasilkan grup band Lapas yang profesional di masa mendatang.

“Ini jadi pembinaan sangat bagus dan menjadi bagian dari humanizing in made , memanusiakan manusia, jadi ini sebuah proses untuk menjadi manusia sesungguhnya, kalau menurut saya,” kata Jerinx. (Way)