Potret Toleransi di Bali

    


Sholat Ied di salah satu Masjid di Buleleng yang dijaga oleh personel jajaran Kodim 1609/Buleleng, Babinkamtibmas dari Jajaran Polres Buleleng, Satpol PP dan unsur keamanan tradisional desa adat (Pecalang) - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sekalipun mayoritas di Bali adalah Hindu, namun toleransi menjadi tiang penyangga kehidupan warga di Pulau Dewata.

Ketika musim liburan Idul Fitri, Bali banyak ditinggalkan kaum urban untuk melakukan tradisi mudik. Namun warga pendatang lain, pemeluk muslim, yang telah ratusan tahun menetap di Bali tetap merayakan Idul Fitri di Pulau Dewata.

Potret kehidupan masyarakat itu benar-benar terasa pada saat berlangsungnya sholat Ied. Di wilayah Buleleng, kegiatan ibadah umat muslim berlangsung aman dan lancar, Jumat, 15 Juni 2018.

Di semua titik penyelenggaraan ibadah, umat Muslim di Buleleng melaksanakan prosesi ibadah dengan khidmat dan khusuk.

Beberapa orang personel Babinsa di jajaran Kodim 1609/Buleleng terlihat berjaga bersama aparat keamanan lainnya, khususnya Babinkamtibmas dari Jajaran Polres Buleleng, Satpol PP maupun unsur keamanan tradisional desa adat (Pecalang) atau kecamatan setempat.

“Kebersamaan dan sinergitas dalam hal pengamanan kegiatan ibadah merupakan tanggung jawab bersama komponen masyarakat Buleleng,” jelas Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf Verdy De Irawan, Jumat, 15 Juni 2018.

Dengan demikian, lanjut Verdy seluruh unsur keamanan yang ada di Kabupaten Buleleng memiliki komitmen selalu menjalin koordinasi dan komunikasi secara intensif.

Bukan hanya pada saat pelaksanaan Sholat Ied, jajaran Kodim Buleleng juga bersinergi dengan Polres dalam menggelar operasi pengamanan arus mudik di beberapa titik maupun Posko.

Pos tersebut ditempatkan di sepanjang jalur utama keluar masuk kabupaten Buleleng. Letkol Inf Verdy De Irawan menjelaskan, tujuannya untuk membantu kelancaran arus lalu lintas bagi pemudik maupun wisatawan yang akan berkunjung ke beberapa destinasi wisata pasca liburan bersama Hari Raya Idul Fitri 1439 H. (*)