Polisi: 36 Terluka Saat Pecah Bentrokan Antara Massa dan Aparat di Gedung DPR RI

    


Sebuah mobil water canon milik kepolisian rusak dalam aksi demonstrasi menolak UU KPK dan sejumlah pasal kontroversial RKUHP di gedung DPR RI, Senin (24/9/2019) - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat di depan gedung DPR pada Senin (24/9/2019) menyebabkan 36 orang mengalami luka-luka. Beberapa diantaranya harus dirawat intensif di Rumah Sakit.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menjelaskan terkait lini waktu terjadinya bentrokan antara aparat dan petugas.

“Berawal dari tuntutan pengunjuk rasa, setelah dinegosiasi ada perwakilan pengunjukrasa bertemu ketua gedung DPR RI Jam 16.00 WIB pada saat kejadian. Namun dari pengunjuk rasa ingin ketua DPR RI yang datang menemui pengunjuk rasa didepan gedung DPR/MPR RI,” jelas Argo Yuwono, Rabu (25/9/2019).

Namun, pengunjuk rasa memberikan tenggat waktu sampai pukul 16.00 Wib kepada ketua DPR untuk menemui mahasiswa,dan akan memaksa masuk ke gedung dewan jika tidak ditemui.

“Setelah pukul 16.00 Wib, massa mulai mendorong anggota polisi yang jaga di depan pintu utama gedung DPR/MPR RI. Massa lain merusak pagar gedung DPR/MPR RI, serta pengunjuk rasa mulai masuk ke jalan tol dan menutup tol,” tambah Argo.

Polisi kemudian mengambil langkah penertiban dan melakukan pembubaran paksa dengan meengerahkan water canon.

Argo menambahkan, massa melakukan perlawanan dengan melempar batu ke arah petugas polisi. Perlawanan itu mengakibatkan 2 orang anggota terluka di bagia hidung dan seorang anggota polwan terkena lemoaran batu di kepala.

Aksi massa mulai beringas di depan gedung DPR/MPR RI dengan merusak mobil public address dan mobil water canon milik polisi.

“Pagar depan sisi kanan gedung dirusak, ada tiga yang rusak. Selain itu, taksi dan mobil pribadi warga yang melalui tol di depan pulau, juga dirusak massa,” tambahnya.

Kerusakan yang terjadi akibat demonstrasi menolak UU KPK dan pasal-pasal kontriversial RKUHP itu, juga terjadi di pintu gerbang tol Pejompongan yang dibakar massa, termasuk perusakan Pospol Palmerah dan Pospol Senayan.

Massa juga merusak dan membakar mobil ambulans. Sementara, di gedung DPR, setelah merobohkan pagar, massa bergerak ke belakang gedung dan merusak penjagaan Pamdal.

“Pospol di Slipi juga dirusak oleh massa anarkis,” kata Argo. (Bob)