Polda Metro Jaya Bongkar Mafia Tanah Rumah Mewah, Modusnya Sangat Rapi

    


Menteri ATR/BPN RI bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana saat memberikan keterangan prrs di Jakarta, Rabu 12 Februari 2020 - foto: Bob/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Tim Unit 1 Subdit 2 Harta Benda Direktorat Kriminal Umum Polda Jaya menggulung mafia tanah yang menjual properti milik pasangan Indra Hoesin dan Nadine Indra Danuningrat.

Pelaku mengelabui korban Indra untuk menyerahkan sertifikat asli rumah dan tanahnya yang berlokasi di Jakarta Selatan. Mafia ini menjual lahan pasangan itu senilai lebih dari Rp 11 miliar.

“Ini tindak lanjut kerja sama Polri dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN),” jelas Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.

Pada Januari 2019 lalu Indra berniat menjual rumahnya yang berlokasi di Jalan Brawijaya III No 12, Jakarta Selatan. Seseorang bernama Diah menemuinya dan menyatakan minatnua untuk membeli rumah itu.

Diah meminta Indra untuk pengecekan keaslian sertifikat properti di Brawijaya itu ke Kantor Notaris Idham di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Di sinilah kejahatan itu mulai terjadi.

Di kantor notaris itu, seseorang bernama Raden Handi alias Adri mengaku sebagai Notaris Idham dan memfotokopi sertifikat asli rumah Brawijaya. Selanjutnya Raden Handi menyerahkan fotokopi sertifikat itu kepada Dedi Rusmanto.

Dedi inilah yang nantinya berperan memalsukan sertifikat rumah Brawijaya itu berdasarkan salinan yang ia terima dari Raden Handi.

Sertifikat palsu yang dipegang Dedi Rusmanto lantas ditukar dengan sertifkkat asli pemilik Indra Hoesein, ketika pengecekan dilakukan di Kantor Badan Pertanahan Nasional. Dalam pengecekan pada 29 Januari 2019, Dedi Rusmanto mengaku mewakili pihak pembeli meminjam sertifikat asli dengan alasan untuk memfoto kopi.

Namun, yang dilakukan Dedi adalah menukar sertifikat asli yang kemudian ia kuasai dan menyerahkan sertifikat palsu kepada pihak penjual.

Walhasil, Dedi memegang sertifikat asli, sedangkan Indra tanpa sadar hanya memegang sertifikat palsu. Dedi lantas menyerahkan sertifikat asli kepada Diah yang pertama kali menemui Indra pemilik rumah Brawijaya.

“Penyerahan sertifikat asli oleh Dedi Rusmanto berlangsung di Cilandak Town Square,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana kepada media di Hotel Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.

Menurutnya, Diah menerima setifikat asli ditemani oleh Arnold.

“Sedangkan Dedi Usmanto menerima imbalan sebanyak Rp 30 juta,” lanjut Kapolda.

Kejahatan Diah selanjutnya adalah menjual properti di Brawijaya itu kepada Fendi melalui Kantor Notaris Aldi Putra Johan.

“Semua disiapkan, termasuk pasangan Indra dan Nadine palsu. Juga rekening atas nama Indra Hoesin di Bank Danamon yang palsu juga untuk menerima transfer jual-beli properti,” kata Kapolda.

“Uang yang ditransfer Fendi ke rekening itu total Rp 11,175 miliar. Selanjutnya, dari rekening Danamon ditransfer lagi sebanyak Rp 11 miliar kepada rekening Bugi Martono di Bank BCA,” kata Kapolda Nana.

Selanjutnya Bugi Martono mengambil dana tunai dan menyerahkannya kepada Arnold dan Neneng.

Namun, pada Februari 2020, kejahatan mereka terbongkar semua. “Raden Handi dan Arnold adalah pemain lama yang pernah dihukum sebelumnya dalam kasus serupa,” kata Kapolda.

Ia menambahkan keduanya mengulang perbuatannya ketika masih dalam status bebas bersyarat.

Total tersangka dalam kasus ini mencapai 10 orang. Masing-masing adalah Dedi Rusmanto yang sudah ditahan di Lapas Cipinang, Jakarta Timur dalam kasus lain. Dua orang yakni, Neneng Zakiah dan Diah alias Ayu masih DPO. (Bob)