Piodalan di Desa Adat Kerobokan Akan Diikuti 50 Banjar

    


Bendesa adat Kerobokan, Anak Agung Putu Sutarja - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Piodalan di Pura Lan Puseh Desa Adat Kerobokan akan dilaksanakan pada 4-5 Juni 2018. Piodalan itu akan diikuti oleh 50 Banjar yang ada desa adat setempat.

Bendesa adat Kerobokan, Anak Agung Putu Sutarja menjelaskan, selama dua hari dilaksanakannya piodalan, pihaknya akan mengatur kegiatan umat yang akan melakukan persembahyangan di Pura.

Hal itu dilakukan mengingat banyaknya warga umat Hindu dari Banjar desa adat Kerobokan yang akan melakukan aktifitas keagamaan.

“Dimulai Senin mulai pukul 7 pagi sampai selesai pada Selasa (5/6/2018). Nanti akan ada pengaturan, termasuk arus lalu lintas,” jelas AA Putu Sutarja, Kamis, 24 Mei 2018.

Pihaknya saat ini telah berkoordinasi dengan otoritas kepolisian yang akan memberlakukan sistem buka tutup arus lalu lintas. AA. Putu Sutarja juga menyampaikan permakluman kepada masyarakat yang melintasi sepanjang jalan yang akan digunakan untuk upacara.

“Jalan tidak akan ditutup total selama 2 hari, tapi diberlakukan sistem buka tutup seperti yang sering dilakukan saat Piodalan,” jelasnya.

Pihaknya juga menghimbau kepada umat yang akan bersembahyang agar tidak membawa kendaraan roda empat. Mengingat, lahan parkir kurang mencukupi untuk menampung mobil. Ia menyarankan umat yang datang agar mengendarai kendaraan roda dua.

Piodalan di Pura Lan Puseh Desa Adat Kerobokan digelar setiap enam bulan sekali. Dalam perhitungan kalender Bali, upacara itu selalu jatuh setiap hari Senin atau menjelang hari Raya Kuningan.

Dalam filosofinya, Piodalan menjadi upacara persembahan kepada Tuhan yang bermanifestasi sebagai Brahma dan Wisnu yang bersemayam di Pura Desa. Persembahan yang diberikan menjadi Yadnya yang dihaturkan warga secara tulus ikhlas. (Way)